Saya melewatkan masa akil-balik saya di sebuah kota kecil di Sumatra Utara. Seperti remaja pada umumnya pada masa itu kami yakin bahwa semakin banyak fasilitas semakin mudah rasanya menjalani hidup. Apalagi bicara soal mobilitas, lengkap sudah rasanya kalau saya mempunyai kendaraan sendiri, karena saya bisa pergi kemana-mana dengan teman-teman dengan penuh percaya diri dan bergaya. Terlebih dari itu, soal mendapatkan teman cewek, gampang. Kami di daerah sana mengistilahkan kendaraan itu ‘pelet Jepang’, yaitu kendaraan (roda dua maupun empat) buatan Jepang (karna hampir semua buatan Jepang adanya) yang kalau dikendarai bisa dengan gampang ajak teman cewek raon-raon (jalan-jalan).
Ini adalah blog bagi orang2 yang mau ngritik dan dikritik demi terciptanya Perubahan. Pertanyaannya adalah : Kenapa saya harus berubah??
Rabu, 22 Desember 2010
Jumat, 03 Desember 2010
Jogja, Rakyatnya, Indonesia dan Sultannya
Tidak lama setelah bencana Gunung Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya baru saja mereda, tiba-tiba saja SBY membumbungkan hawa panas perihal kemonarkian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ke langit Indonesia yang katanya adalah negara demokrasi. Pembumbungan hawa panas ini secara spontan mendapat tanggapan kontra dari banyak kalangan terutama masyarakat Yogyakarta sendiri yang secara sejarah dan emosi tidak dapat dipisahkan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini.
Entah mendapat bisikan dari mana atau siapa, SBY yang sendirinya adalah keturunan Jawa dan orang berpendidikan pula yang tentunya paham dengan latar-belakang hubungan masyarakat Jogja dengan kesultanannya itu, mau mempertanyakan hak kemonarkian Sultan yang juga adalah gubernur DIY ini.
Kamis, 25 November 2010
Pemimpin Berubah Rakyat Juga
Tanggapan atas Komentar Saudara Gondal Gandul (atas tulisan saya SEKAPUR SIRIH)
Tepat sekali, kesimpulan Anda di alenia pertama komentar anda, tidak keluar sedikitpun dari jalur pemikiran saya. Ini adalah hubungan sebab akibat: manusia Indonesia (sebagai sebab) membiarkan negaranya menjadi ‘dedel duwel’ (sebagai akibat) persis seperti arti kata yang anda pakai itu yang artinya dalam bahasa Indonesianya adalah 'ibarat pakaian ia terkoyak di banyak bagian sampai wujudnya pun tidak tampak seperti pakaian lagi'.
Jumat, 19 November 2010
SEKAPUR SIRIH
Keterpurukan Negara ini disebabkan oleh manusianya sendiri
Manusia Indonesia menurut saya belum siap untuk hidup bernegara, itulah yang menjadi sebab kenapa negara ini terpuruk. Bernegara di sini maksud saya adalah melakukan tindakan-nyata dalam mengembangkan dan memajukan negara Indonesia atas dasar kecintaan dan kebanggan manusia Indonesia terhadap negaranya. Ini sama halnya dengan perihal rumah tangga yang setiap anggota keluarganya merasa punya andil untuk memperbaiki sesuatu yang rusak dan mempertahankan keberlangsungan hidup di dalam rumah itu.
Memang kalau manusia Indonesia ditanyai kalau mereka mencintai dan bangga akan negaranya, siapa saja bisa bilang “YA”. Tapi bagi mereka yang lebih terbuka akan bilang “kenapa aku harus mencintai Negara ini, dan apa pula yang harus aku banggakan kalau para pemimpin semuanya korup?” Pernyataan yang kedua inilah yang merupakan tantangan kita saat ini.
Saya pun kalau disuruh menjawab pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan pernyataan yang kedua yaitu menuntut orang lain (yang dalam hal ini adalah pemimpin) untuk tidak melakukan kesalahan. Dan memang itu harus. Tetapi selanjutnya apa, jika merekapun tidak melakukan kesalahan, akankah saya menjadi bangga dengan Negara? Tentu dalam keadaan seperti itu pun tidak, karena kita tidak bisa berbangga karena sesuatu yang tidak/belum dilakukan seseorang. Kita bisa berbangga karena suatu tindakan yang seseorang lakukan yang berdampak baik pada orang lain.
Dalam hal bangga-berbangga ini, setiap manusia Indonesia dituntut untuk berpikir dan melakukan tindakan yang berdampak baik bagi orang lain, sehingga akhirnya akan membuat manusia Indonesia yang lainnya berbangga atas apa yang orang lain perbuat.
Langsung kepada inti pemikirannya sekarang, di sini saya bicara soal kepribadian yang setiap manusia Indonesia harus miliki. Supaya Negara bisa lepas dari keterpurukan ini setiap manusia Indonesia harus memiliki kepribadian yang matang/dewasa untuk bernegara. Dengan kata lain kepribadian manusia Indonesia yang mendukung bisa merubah nasib negara ini. Sistem saja tidak cukup untuk menciptakan Indonesia yang lebih cerah – atau mungkin sebenarnya sistem itu tidak perlu karena kepribadian manusia-manusianya sudah sangat mendukung untuk mewujudkan sebuah kemakmuran.
Kita ambil contoh apa yang terjadi pada negara-negara Skandinavia seperti, Finlandia, Denmark, Swedia dll. Negara-negara tersebut tidak memiliki sistem anti korupsi dan juga tidak sedang mengembangkannya, tetapi mereka dikenal sebagai negara-negara yang paling bersih dari korupsi di seluruh dunia. Dan karena bersihnya negara-negara tersebut dari korupsi, tentunya masyarakatnya memiliki perekonomian yang merata (sedikit sekali orang miskin, kebanyakan masyarakatnya adalah kelas menengah dan jenjang antara kelas menengah dan atas tidak terlalu jauh – semua orang mampu memperoleh semua kebutuhan pokok bahkan sekunder). Keberhasilan ini adalah hasil dari tindakan-tindakan nyata masyarakat negara-negara tersebut yang berkepribadian matang/dewasa yang bertujuan baik untuk orang lain dan negaranya.
Indonesia bukanlah negara yang baru berdiri kemarin. Indonesia menyatakan kemerdekaannya di era pembebasan dari tirani penjajahan imperialis Barat (baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin); masa yang banyak melahirkan negara-negara merdeka, bahkan Indonesia adalah salah satu negara yang mempelopori kemerdekaan bangsa-bangsa. Sekarang negara-negara yang merdeka setelah kemerdekaan negara kita sudah banyak yang terlepas dari keterpurukan bahkan sudah sangat leibh maju.
Indonesia berdiri karena cita-cita para pendiri negara kita yaitu sebuah keyakinan bahwa setiap umat manusia di manapun termasuk manusia Indonesia memiliki hak untuk hidup layak tanpa penindasan dari bangsa lain dan juga mempunyai hak serta kemampuan untuk berdiri sebagai suatu negara yang berderajat tinggi sederajat dengan negara-negara lain di dunia. Semangat kemerdekaan inilah yang membakar para pejuang untuk bertempur merebut kemerdekaan bahkan sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri... Sampai akhirnya kemerdekaan itupun berhasil didapatkan. Tapi itukah segalanya yang kita (manusia Indonesia) inginkan? Tentu tidak. Cita-cita itu masih jauh dari keterpenuhan karena banyak manusia Indonesia (bahkan kebanyakan) belum hidup layak dan lebih jauh lagi di dunia ini Indonesia dijuluki negara Ke-Tiga yang artinya kita tidak sejajar dengan negara-negara Maju – kita berada beberapa tingkat di bawah mereka.
Dari segi kejiwaan, manusia Indonesia merasa lebih rendah dari manusia-manusia negara-negara maju. Itu benar, karena manusia Indonesia lebih percaya kalau bisnisnya dijalani oleh mereka ketimbang oleh dirinya sendiri. Itu benar, karena tenaga ahli mereka tampaknya lebih mampu ketimbang tenaga ahli kita. Itu benar, karena tampaknya mereka lebih teliti, lebih cermat, lebih sungguh-sungguh dsbnya dari kita. Itu benar, karena kita lebih yakin dengan barang-barang bikinan mereka daripada punya kita – dan bahkan saking yakinnya, kita tidak pernah mau lagi mencoba untuk membuat karya sendiri. Singkatnya kalau mereka turun tangan dalam setiap sisi kehidupan/pekerjaan kita semuanya pasti beres, hasilnya pasti akan baik.
Bicara soal kemerdekaan berarti tentang kemandirian. Apa yang salah dengan kita kalau kita tidak bisa melakukan pekerjaan kita tanpa campur tangan orang asing? Mungkin karena kita tidak suka bekerja keras; lebih baik orang lain yang bekerja dan kita yang menikmati apa yang bisa dinikmati dari hasilnya. Tapi bukankah ada pepatah ‘siapa menanam dia yang menuai’. Jawaban yang lebih cocok, menurut saya adalah karena kita tidak yakin dengan kemampuan kita sendiri.
Ketidak-yakinan akan diri kita sendiri adalah masalah KEJATI-DIRIAN (kepribadian). Jika seseorang hidup dengan masalah kejati-dirian ini, itu artinya dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri ‘siapa sebenarnya saya?’, ‘apa makna hidup saya’? ‘kenapa saya hidup di tengah-tengah masyarakat ini, dan apa pula hubungannya antara saya dengan mereka?’ dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan pencarian-jatidiri lainnya.
Jawaban dari semua pertanyaan di atas dapat ditemukan di mana-mana dalam kehidupan ini di belahan dunia manapun selama kita mau mencarinya. Jawabannya secara sederhana adalah,’Saya adalah saya yang tidak pernah sama secara sifat maupun rupa dengan orang lain, tetapi sama dalam hak, sebanding dalam kemampuan, dan beragam dalam talenta’. ‘Makna hidup saya adalah bukan hidup untuk saya, karena setiap yang saya kumpulkan untuk saya pribadi akan busuk bersama nama saya, tetapi apa yang saya kerjakan buat kebaikan orang banyak akan menjadi panutan dan dikenang beserta nama saya’. ‘Hubungan saya dengan masyarakat saya adalah PELUANG bagi saya untuk membuat mereka BANGGA dengan satu sama lainnya (dalam hal ini bangga menjadi manusia Indonesia)’. Dan semua pertanyaan-pertanyaan lainnya selalu ada jawaban dan selalu akan membangun kepribadian/jati-diri kita (jika kita mau mencari).
Sekarang kita dihadapkan pada sebuah tantangan yaitu PERUBAHAN. Manusia Indonesia harus memiliki Kepribadian yang benar yang memampukan kita untuk bisa bernegara. Kapan Perubahan ini harus dimulai? Jawabannya adalah SEKARANG.
Perubahan kepribadian setiap manusia Indonesia harus dimulai dari sekarang. Jika kita generasi sekarang tidak berubah maka anak-cucu kita generasi kedua dan ketiga pun tidak berubah. Di masa itu, mereka seperti kita sudah tidak mempunyai rasa cinta dan bangga terhadap negara dan segala isinya karena kita pun tidak. Yang mereka pikirkan pada masa itu adalah melakukan segala sesuatu untuk diri sendiri, persetan dengan manusia Indonesia lainnya. Pada masa itu pula (sekitar 50 tahun dari sekarang dengan perhitungan satu generasi adalah 25 tahun) Indonesia sudah ludes terbeli oleh negara kaya, anak-cucu kita adalah budak uang mereka, sementara sebagian besar lainnya akan tetap hidup kekurangan makan, tak berpendidikan, terlantar dan sebagainya.
Jika kita dari sekarang berubah maka tujuannya adalah mempertahankan negara ini dengan masyarakat yang makmur merata sama dengan semua masyarakat di belahan dunia manapun, dan kita punya derajat yang sama dengan negara-negara maju, bukan di bawah mereka. Kita bisa dengan bangga membawa nama Indonesia di dunia internasional, bekerja sama dengan orang dari negara manapun sebagai mitrakerja dan disegani karena prestasi dan martabatnya.
Bagaimana caranya kita berubah?
Yang pertama-tama yang harus kita lakukan menurut saya adalah mengembangkan kepribadian yang tepat untuk bernegara, yaitu: mulai dengan bertanya kepada diri sendiri 'siapa saya?’ dan cobalah menjawabnya. Seperti sudah ditulis di atas 'Saya adalah saya yang tidak sama secara sifat dan rupa (beda kulit, beda bentuk wajah, beda ukuran tubuh dll) tetapi saya punya hak untuk hidup yang sama dengan semua orang dan punya kemampuan untuk mengembangkan diri'. Silahkan anda mengembangkan sendiri pengertian ini, tetapi intinya adalah tidak ada satupun dari kita yang rendah yang karna alasan apapun tidak hidup layak dan tidak bisa mengembangkan kemampuan kita untuk kepentingan orang banyak.
Saya menganggap hal pencarian jati-diri/pengembangan diri ini penting karena saya banyak menemukan manusia Indonesia yang bersifat pasrah, tidak bisa menggerakkan diri sendiri untuk mecapai sesuatu yang lebih baik dan tidak keluar dari kubangan permasalahannya. Dalam wadah blog ini, saya mau menempatkan permasalahan ini dalam satu kategori khusus, yang saya harap tulisan-tulisannya bisa membakar, menyemangati, mendorong, dan meyakinkan manusia-manusia ‘pasrah’ ini untuk mulai lebih aktif untuk Bernegara. Kategori ini akan saya beri nama ‘Penjati-dirian’.
Ada banyak kategori lain dalam blog ini juga. Masing-masing kategori akan berisi tulisan yang membangun, mengkritik, memberi inspirasi, pencerahan, tapi tidak pernah menjatuhkan semangat pembaca. Kategori-kategori tersebut di antaranya adalah: ‘Demokrasi’ yang tulisannya berisi bagaimana seharusnya manusia Indonesia bertindak dan berpikir dalam negara demokrasi seperti Indonesia, apa hubungan rakyat dengan para pemimpin, dll, ‘Peranan Perempuan’ akan berisikan tulisan-tulisan yang menyemangati perempuan Indonesia dalam perannya membangun negara, kemerdekaan mereka untuk mengutarakan hak dan pendapatnya, dll, ‘Pendidikan Anak’ tentang bagaimana mendidik anak untuk mencintai dan bangga akan negaranya, mendidik mereka supaya mandiri, tau akan kemampuannya dan mau mengembangkannya demi kepentingan orang banyak, ‘Berbahasa’ bahasa yang tidak bertele-tele, yang terarah, yang lebih dimengerti oleh setiap kalangan dan tentunya yang membangun. Dan masih banyak lagi kategori yang lain yang perlu kita kembangkan jika perlu.
Saya undang setiap pembaca untuk menulis tulisan-tulisan yang intinya adalah untuk mengajak manusia Indonesia untuk berubah. Ingat!, Perubahan di sini sangatlah penting, sepenting keberlangsungan negara ini sendiri. Tulisan-tulisan kita semua akan sangat bermanfaat bagi manusia Indonesia lainnya, tulislah sesuatu yang terbaik buat kita semua. Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian saudara semua. Harapan saya, kita semua masih bisa mencintai dan bangga akan negara ini dan berlanjut sampai generesi selanjutnya dan seterusnya, selamanya. Amin.
dengan Cinta saya,
DMP
Manusia Indonesia menurut saya belum siap untuk hidup bernegara, itulah yang menjadi sebab kenapa negara ini terpuruk. Bernegara di sini maksud saya adalah melakukan tindakan-nyata dalam mengembangkan dan memajukan negara Indonesia atas dasar kecintaan dan kebanggan manusia Indonesia terhadap negaranya. Ini sama halnya dengan perihal rumah tangga yang setiap anggota keluarganya merasa punya andil untuk memperbaiki sesuatu yang rusak dan mempertahankan keberlangsungan hidup di dalam rumah itu.
Memang kalau manusia Indonesia ditanyai kalau mereka mencintai dan bangga akan negaranya, siapa saja bisa bilang “YA”. Tapi bagi mereka yang lebih terbuka akan bilang “kenapa aku harus mencintai Negara ini, dan apa pula yang harus aku banggakan kalau para pemimpin semuanya korup?” Pernyataan yang kedua inilah yang merupakan tantangan kita saat ini.
Saya pun kalau disuruh menjawab pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan pernyataan yang kedua yaitu menuntut orang lain (yang dalam hal ini adalah pemimpin) untuk tidak melakukan kesalahan. Dan memang itu harus. Tetapi selanjutnya apa, jika merekapun tidak melakukan kesalahan, akankah saya menjadi bangga dengan Negara? Tentu dalam keadaan seperti itu pun tidak, karena kita tidak bisa berbangga karena sesuatu yang tidak/belum dilakukan seseorang. Kita bisa berbangga karena suatu tindakan yang seseorang lakukan yang berdampak baik pada orang lain.
Dalam hal bangga-berbangga ini, setiap manusia Indonesia dituntut untuk berpikir dan melakukan tindakan yang berdampak baik bagi orang lain, sehingga akhirnya akan membuat manusia Indonesia yang lainnya berbangga atas apa yang orang lain perbuat.
Langsung kepada inti pemikirannya sekarang, di sini saya bicara soal kepribadian yang setiap manusia Indonesia harus miliki. Supaya Negara bisa lepas dari keterpurukan ini setiap manusia Indonesia harus memiliki kepribadian yang matang/dewasa untuk bernegara. Dengan kata lain kepribadian manusia Indonesia yang mendukung bisa merubah nasib negara ini. Sistem saja tidak cukup untuk menciptakan Indonesia yang lebih cerah – atau mungkin sebenarnya sistem itu tidak perlu karena kepribadian manusia-manusianya sudah sangat mendukung untuk mewujudkan sebuah kemakmuran.
Kita ambil contoh apa yang terjadi pada negara-negara Skandinavia seperti, Finlandia, Denmark, Swedia dll. Negara-negara tersebut tidak memiliki sistem anti korupsi dan juga tidak sedang mengembangkannya, tetapi mereka dikenal sebagai negara-negara yang paling bersih dari korupsi di seluruh dunia. Dan karena bersihnya negara-negara tersebut dari korupsi, tentunya masyarakatnya memiliki perekonomian yang merata (sedikit sekali orang miskin, kebanyakan masyarakatnya adalah kelas menengah dan jenjang antara kelas menengah dan atas tidak terlalu jauh – semua orang mampu memperoleh semua kebutuhan pokok bahkan sekunder). Keberhasilan ini adalah hasil dari tindakan-tindakan nyata masyarakat negara-negara tersebut yang berkepribadian matang/dewasa yang bertujuan baik untuk orang lain dan negaranya.
Indonesia bukanlah negara yang baru berdiri kemarin. Indonesia menyatakan kemerdekaannya di era pembebasan dari tirani penjajahan imperialis Barat (baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin); masa yang banyak melahirkan negara-negara merdeka, bahkan Indonesia adalah salah satu negara yang mempelopori kemerdekaan bangsa-bangsa. Sekarang negara-negara yang merdeka setelah kemerdekaan negara kita sudah banyak yang terlepas dari keterpurukan bahkan sudah sangat leibh maju.
Indonesia berdiri karena cita-cita para pendiri negara kita yaitu sebuah keyakinan bahwa setiap umat manusia di manapun termasuk manusia Indonesia memiliki hak untuk hidup layak tanpa penindasan dari bangsa lain dan juga mempunyai hak serta kemampuan untuk berdiri sebagai suatu negara yang berderajat tinggi sederajat dengan negara-negara lain di dunia. Semangat kemerdekaan inilah yang membakar para pejuang untuk bertempur merebut kemerdekaan bahkan sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri... Sampai akhirnya kemerdekaan itupun berhasil didapatkan. Tapi itukah segalanya yang kita (manusia Indonesia) inginkan? Tentu tidak. Cita-cita itu masih jauh dari keterpenuhan karena banyak manusia Indonesia (bahkan kebanyakan) belum hidup layak dan lebih jauh lagi di dunia ini Indonesia dijuluki negara Ke-Tiga yang artinya kita tidak sejajar dengan negara-negara Maju – kita berada beberapa tingkat di bawah mereka.
Dari segi kejiwaan, manusia Indonesia merasa lebih rendah dari manusia-manusia negara-negara maju. Itu benar, karena manusia Indonesia lebih percaya kalau bisnisnya dijalani oleh mereka ketimbang oleh dirinya sendiri. Itu benar, karena tenaga ahli mereka tampaknya lebih mampu ketimbang tenaga ahli kita. Itu benar, karena tampaknya mereka lebih teliti, lebih cermat, lebih sungguh-sungguh dsbnya dari kita. Itu benar, karena kita lebih yakin dengan barang-barang bikinan mereka daripada punya kita – dan bahkan saking yakinnya, kita tidak pernah mau lagi mencoba untuk membuat karya sendiri. Singkatnya kalau mereka turun tangan dalam setiap sisi kehidupan/pekerjaan kita semuanya pasti beres, hasilnya pasti akan baik.
Bicara soal kemerdekaan berarti tentang kemandirian. Apa yang salah dengan kita kalau kita tidak bisa melakukan pekerjaan kita tanpa campur tangan orang asing? Mungkin karena kita tidak suka bekerja keras; lebih baik orang lain yang bekerja dan kita yang menikmati apa yang bisa dinikmati dari hasilnya. Tapi bukankah ada pepatah ‘siapa menanam dia yang menuai’. Jawaban yang lebih cocok, menurut saya adalah karena kita tidak yakin dengan kemampuan kita sendiri.
Ketidak-yakinan akan diri kita sendiri adalah masalah KEJATI-DIRIAN (kepribadian). Jika seseorang hidup dengan masalah kejati-dirian ini, itu artinya dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri ‘siapa sebenarnya saya?’, ‘apa makna hidup saya’? ‘kenapa saya hidup di tengah-tengah masyarakat ini, dan apa pula hubungannya antara saya dengan mereka?’ dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan pencarian-jatidiri lainnya.
Jawaban dari semua pertanyaan di atas dapat ditemukan di mana-mana dalam kehidupan ini di belahan dunia manapun selama kita mau mencarinya. Jawabannya secara sederhana adalah,’Saya adalah saya yang tidak pernah sama secara sifat maupun rupa dengan orang lain, tetapi sama dalam hak, sebanding dalam kemampuan, dan beragam dalam talenta’. ‘Makna hidup saya adalah bukan hidup untuk saya, karena setiap yang saya kumpulkan untuk saya pribadi akan busuk bersama nama saya, tetapi apa yang saya kerjakan buat kebaikan orang banyak akan menjadi panutan dan dikenang beserta nama saya’. ‘Hubungan saya dengan masyarakat saya adalah PELUANG bagi saya untuk membuat mereka BANGGA dengan satu sama lainnya (dalam hal ini bangga menjadi manusia Indonesia)’. Dan semua pertanyaan-pertanyaan lainnya selalu ada jawaban dan selalu akan membangun kepribadian/jati-diri kita (jika kita mau mencari).
Sekarang kita dihadapkan pada sebuah tantangan yaitu PERUBAHAN. Manusia Indonesia harus memiliki Kepribadian yang benar yang memampukan kita untuk bisa bernegara. Kapan Perubahan ini harus dimulai? Jawabannya adalah SEKARANG.
Perubahan kepribadian setiap manusia Indonesia harus dimulai dari sekarang. Jika kita generasi sekarang tidak berubah maka anak-cucu kita generasi kedua dan ketiga pun tidak berubah. Di masa itu, mereka seperti kita sudah tidak mempunyai rasa cinta dan bangga terhadap negara dan segala isinya karena kita pun tidak. Yang mereka pikirkan pada masa itu adalah melakukan segala sesuatu untuk diri sendiri, persetan dengan manusia Indonesia lainnya. Pada masa itu pula (sekitar 50 tahun dari sekarang dengan perhitungan satu generasi adalah 25 tahun) Indonesia sudah ludes terbeli oleh negara kaya, anak-cucu kita adalah budak uang mereka, sementara sebagian besar lainnya akan tetap hidup kekurangan makan, tak berpendidikan, terlantar dan sebagainya.
Jika kita dari sekarang berubah maka tujuannya adalah mempertahankan negara ini dengan masyarakat yang makmur merata sama dengan semua masyarakat di belahan dunia manapun, dan kita punya derajat yang sama dengan negara-negara maju, bukan di bawah mereka. Kita bisa dengan bangga membawa nama Indonesia di dunia internasional, bekerja sama dengan orang dari negara manapun sebagai mitrakerja dan disegani karena prestasi dan martabatnya.
Bagaimana caranya kita berubah?
Yang pertama-tama yang harus kita lakukan menurut saya adalah mengembangkan kepribadian yang tepat untuk bernegara, yaitu: mulai dengan bertanya kepada diri sendiri 'siapa saya?’ dan cobalah menjawabnya. Seperti sudah ditulis di atas 'Saya adalah saya yang tidak sama secara sifat dan rupa (beda kulit, beda bentuk wajah, beda ukuran tubuh dll) tetapi saya punya hak untuk hidup yang sama dengan semua orang dan punya kemampuan untuk mengembangkan diri'. Silahkan anda mengembangkan sendiri pengertian ini, tetapi intinya adalah tidak ada satupun dari kita yang rendah yang karna alasan apapun tidak hidup layak dan tidak bisa mengembangkan kemampuan kita untuk kepentingan orang banyak.
Saya menganggap hal pencarian jati-diri/pengembangan diri ini penting karena saya banyak menemukan manusia Indonesia yang bersifat pasrah, tidak bisa menggerakkan diri sendiri untuk mecapai sesuatu yang lebih baik dan tidak keluar dari kubangan permasalahannya. Dalam wadah blog ini, saya mau menempatkan permasalahan ini dalam satu kategori khusus, yang saya harap tulisan-tulisannya bisa membakar, menyemangati, mendorong, dan meyakinkan manusia-manusia ‘pasrah’ ini untuk mulai lebih aktif untuk Bernegara. Kategori ini akan saya beri nama ‘Penjati-dirian’.
Ada banyak kategori lain dalam blog ini juga. Masing-masing kategori akan berisi tulisan yang membangun, mengkritik, memberi inspirasi, pencerahan, tapi tidak pernah menjatuhkan semangat pembaca. Kategori-kategori tersebut di antaranya adalah: ‘Demokrasi’ yang tulisannya berisi bagaimana seharusnya manusia Indonesia bertindak dan berpikir dalam negara demokrasi seperti Indonesia, apa hubungan rakyat dengan para pemimpin, dll, ‘Peranan Perempuan’ akan berisikan tulisan-tulisan yang menyemangati perempuan Indonesia dalam perannya membangun negara, kemerdekaan mereka untuk mengutarakan hak dan pendapatnya, dll, ‘Pendidikan Anak’ tentang bagaimana mendidik anak untuk mencintai dan bangga akan negaranya, mendidik mereka supaya mandiri, tau akan kemampuannya dan mau mengembangkannya demi kepentingan orang banyak, ‘Berbahasa’ bahasa yang tidak bertele-tele, yang terarah, yang lebih dimengerti oleh setiap kalangan dan tentunya yang membangun. Dan masih banyak lagi kategori yang lain yang perlu kita kembangkan jika perlu.
Saya undang setiap pembaca untuk menulis tulisan-tulisan yang intinya adalah untuk mengajak manusia Indonesia untuk berubah. Ingat!, Perubahan di sini sangatlah penting, sepenting keberlangsungan negara ini sendiri. Tulisan-tulisan kita semua akan sangat bermanfaat bagi manusia Indonesia lainnya, tulislah sesuatu yang terbaik buat kita semua. Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian saudara semua. Harapan saya, kita semua masih bisa mencintai dan bangga akan negara ini dan berlanjut sampai generesi selanjutnya dan seterusnya, selamanya. Amin.
dengan Cinta saya,
DMP
Bahasa Lugas melawan Ba(ha)sa Basi
Ini adalah cerita seorang teman pada masa akil-baliknya. Di dalam masyarakatnya tempat dia tinggal dan dibesarkan ada kebiasan untuk menawarkan makanan yang mereka makan kepada orang lain pada saat mereka hendak menyantap makanannya seperti misalnya “mari makan Mas”, “mari makan Mbak”, dsb. Ia sering mengamati orang melakukan hal tersebut kepada orang lain tetapi selalu saja jawabannya adalah, “nggak, terima kasih”, “terima kasih, sudah makan tadi”, “terima kasih, silahkan dilanjut makannya”. Belum pernah ia melihat ada orang yang ditawari makan, langsung berkata “ayok, ikut makan ya” dan kemudian langsung menyantap makanan si penawar bersama-sama. Dan memang itulah yang benar-benar ia ingin lakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)