Saya melewatkan masa akil-balik saya di sebuah kota kecil di Sumatra Utara. Seperti remaja pada umumnya pada masa itu kami yakin bahwa semakin banyak fasilitas semakin mudah rasanya menjalani hidup. Apalagi bicara soal mobilitas, lengkap sudah rasanya kalau saya mempunyai kendaraan sendiri, karena saya bisa pergi kemana-mana dengan teman-teman dengan penuh percaya diri dan bergaya. Terlebih dari itu, soal mendapatkan teman cewek, gampang. Kami di daerah sana mengistilahkan kendaraan itu ‘pelet Jepang’, yaitu kendaraan (roda dua maupun empat) buatan Jepang (karna hampir semua buatan Jepang adanya) yang kalau dikendarai bisa dengan gampang ajak teman cewek raon-raon (jalan-jalan).
Ini adalah blog bagi orang2 yang mau ngritik dan dikritik demi terciptanya Perubahan. Pertanyaannya adalah : Kenapa saya harus berubah??
Rabu, 22 Desember 2010
Jumat, 03 Desember 2010
Jogja, Rakyatnya, Indonesia dan Sultannya
Tidak lama setelah bencana Gunung Merapi di Yogyakarta dan sekitarnya baru saja mereda, tiba-tiba saja SBY membumbungkan hawa panas perihal kemonarkian Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ke langit Indonesia yang katanya adalah negara demokrasi. Pembumbungan hawa panas ini secara spontan mendapat tanggapan kontra dari banyak kalangan terutama masyarakat Yogyakarta sendiri yang secara sejarah dan emosi tidak dapat dipisahkan dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini.
Entah mendapat bisikan dari mana atau siapa, SBY yang sendirinya adalah keturunan Jawa dan orang berpendidikan pula yang tentunya paham dengan latar-belakang hubungan masyarakat Jogja dengan kesultanannya itu, mau mempertanyakan hak kemonarkian Sultan yang juga adalah gubernur DIY ini.
Langganan:
Postingan (Atom)