Minggu, 08 Mei 2011

Berkat Hamzah Saya Tidak Gagap Lagi

Raja juga bisa Gagap
Beberapa waktu yang lalu saya menikmati menonton sebuah filem yang luar biasa bagusnya berjudul “the King’s Speech”. Filem yang sempat memperoleh 12 nominasi dan memenangkan 4 kategori di Academy Award di awal tahun 2011 ini, mengisahkan tentang Raja George ke VI yang berjuang melawan suatu masalah besar dari dalam dirinya yaitu kegagapannya.

Dilatarbelakangi kejadian cerita pada awal mula Perang Dunia ke II, Pangeran Albert dinobatkan sebagai raja Britania Raya dengan gelar George ke VI setelah kematian ayahnya George ke V. Tugas pertamanya sebagai raja adalah membacakan pidato yang akan disiarkan secara langsung ke seluruh dunia melalui radio yang berisikan pernyataan perang Britania Raya dengan Jerman.


Tugas ini benar-benar tugas yang tidak mudah baginya, karena Raja George ke VI yang dalam keluarganya dipanggil Bertie ini adalah seorang yang gagap semenjak masa kanak-kanaknya (dia tidak gagap hanya apabila sedang bertengkar dengan abangnya saja, Pangeran David). Setelah dewasa dia sadar bahwa kegagapan ini muncul karena tekanan pada masa kecilnya seperti, orang tua yang terlalu mendisiplinkannya, pengasuh yang menurutnya lebih menyayangi abangnya ketimbang dirinya, dll. 

Untuk mengatasi permasalahan kegagapannya ini Raja George ke VI meminta bantuan seorang ahli terapi bicara bernama Lionel Louge. Mereka berdua bekerja sama mengatasi masalah dengan menemui berbagai kesukaran dan dengan waktu yang cukup lama, sampai suatu saat Louge sadar bahwa sang Raja tidak gagap apabila dia marah dan memaki-maki. Kekuatan ‘kemarahan’ inilah yang kemudian mereka berdua kembangkan dalam diri sang raja (kadang dengan sengaja Louge membuat sang raja marah). Dan karena keterbiasaannya bicara dengan bebas dengan Louge, dengan ditemani oleh Louge dalam sebuah ruangan siaran radio kecil akhirnya Raja George ke VI dapat membacakan seluruh pidato pertamanya dengan cukup lancar. Semenjak itu Louge selalu mendampingi sang raja di setiap acara pembacaan pidatonya. 

Dulu Saya juga Gagap
Kisah kegagapan Raja George ke VI ini membuat saya teringat dengan masa kecil saya yaitu waktu saya masih duduk di bangku kelas 3 dan kelas 4 sekolah dasar. Waktu itu kami sekeluarga baru saja pindah dari Irian Jaya (Papua) ke sebuah kota kecil di Jawa Tengah dekat perbatasan Jawa Barat mengikuti kepindahan tugas ayah saya. Ini adalah dua tahun pertama saya di kota kecil ini, dan waktu itu saya disekolahkan di sebuah sekolah Inpres. Semua bagi saya pada waktu itu baru dan sulit karena saya harus melalui suatu penyesuaian-diri yang sangat berat. 

Pada masa itu di sekolah, saya tampak seperti anak yang aneh (lain dari yang lain) karena logat saya yang tidak sama dengan yang lain, nama yang aneh dan lain-lain, dan saya sering diolok teman-teman dengan memanggil saya, Orang Irian. Lebih jauh lagi saya sering merasa dikucilkan karena agama orang tua yang saya bawa yang tidak sama dengan agama semua teman-teman. Singkatnya, sekolah bukanlah tempat yang nyaman buat saya waktu itu.

Di rumah, kami adalah keluarga yang tidak terbuka. Dalam keluarga saya, kami tidak terbiasa untuk menceritakan kebanyakan permasalahan masing-masing dengan anggota keluarga yang lain, tidak juga saya menceritakan masalah saya dengan ayah-ibu ataupun dengan kakak-kakak saya. Olehkarenanya, semua hal yang sebutkan di atas saya pendam sendiri, dan mereka semua di keluarga saya tidak tahu (atau sedikit saja tahu) tentang permasalahan yang saya hadapi di sekolah. 

Di luar sekolah, kehidupan juga tidak mudah. Karena tidak terbiasa dengan berbagi-perasaan dengan orang lain saya menjadi anak kecil yang perenung; sering mencoba mencari penyelesaian masalah sendiri, bertanya dalam hati kenapa ini begini sementara kenapa itu begitu dan seterusnya. Sebagai anak kecil pada masa itu saya pun tidak bisa menutup mata dengan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitar saya, di depan mata saya. Kejadian-kejadian tersebut tidak jarang adalah hal-hal yang mengerikan bagi anak kecil, seperti misalnya terjadi perkelahian masal, kecelakaan maut, bunuh diri dan kematian. Sering kejadian-kejadian itu sampai terbawa dalam mimpi.

Suatu kejadian yang saya tidak dapat lupakan adalah: di suatu pagi dalam perjalanan saya ke sekolah, saya melihat kerumunan orang di dekat tempat sempah dekat sebuah pasar. Mereka ternyata sedang menonton sesosok mayat yang tergeletak di atas tumpukan sampah. Setelah melihat lebih jelas, ternyata saya tau siapa mayat itu; dia adalah si pengemis tuna wisma yang tiap hari saya lihat mengemis di jalan menuju pasar. Penyebab kematiannya saya tidak tau, tapi kenapa meninggalnya di tempat sampah, saya rasa karena tempat itu adalah bagian dari kehidupannya sehari-hari (jadi kecil kemungkinan dia mati di sebuah istana). Soal kematian manusia, saya tidak lagi permasalahkannya karna saya tau setiap orang pasti mati, tapi yang saya renungkan selalu adalah betapa begitu sia-siakah kehidupan manusia, yang hidup dan matinya sama seperti sampah. 

Kembali ke sekolah saya. Saya adalah seorang anak kecil yang tertekan; karena perlakuan teman-teman, karena perenungan dan pertanyaan tentang kehidupan yang belum terjawab dan karena saya berdiri seorang diri. Tekanan-tekanan ini membuat saya menjadi anak kecil yang tampak bingung, penuh dengan keraguan dan tidak mempunyai kepercayaan-diri. Masalah kejiwaan ini secara langsung terwujudkan dalam hal kemampuan berbahasa saya. 

Pada masa itu, saya adalah anak yang gagap. Untungnya saya belum sempat dijuluki teman-teman Si Gagap. Pada saat berkumpul dengan teman-teman untuk menutupi kegagapan saya, saya berusaha untuk diam saja dan mendengarkan obrolan mereka. Jika memang saya harus bilang sesuatu saya hanya akan mengucapkannya selirih mungkin – saya hanya akan membesarkan suara saya hanya apabila saya sudah yakin kata-kata yang saya ucapkan tidak ada yang salah (baik dalam konteks maupun cara pengucapannya). 

Saya tampak lebih gagap kalau disuruh membacakan tulisan. Pada waktu itu di hampir semua mata pelajaran yang ada, di dalam kelas guru menyuruh kami membaca materi pelajaran per alinea bergiliran dari murid yang duduk di bangku paling depan ke yang paling belakang. Kalau guru sudah menyuruh membacakan tulisan satu persatu ini, jantung saya pun langsung berdetak sangat cepat. Yang saya lakukan pertama-tama kemudian adalah menghitung jumlah murid sampai ke giliran saya dan melihat alinea mana yang akan saya baca. Jika huruf pertama aliena yang akan saya baca adalah sebuah huruf mati (B, C, D, F dan seterusnya sampai Z) saya merasa agak tenang, karena biasanya saya masih bisa membaca sebuah kalimat yang diawali bunyi huruf mati. Lalu setelah itu saya memperhatikan lagi huruf-huruf pertama di setiap kalimat berikutnya di alinea tersebut. Jika semua kalimat diawali dengan sebuah huruf mati, saya bisa menghela nafas lega karena saya punya keyakin saya akan bisa membaca seluruh kalimat di alinea itu. Namun apabila ada sebuah kalimat saja yang diawali dengan sebuah huruf hidup (A, I, U, E atau O) saya langsung berkeringat dingin, karena yang sudah-sudah, pembacaan selalu terhenti, dan mulut saya hanya terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan bunyi. 

Yang saya tau di kelas saya, setidaknya ada satu anak laki-laki lain yang gagap waktu membaca. Namun bagi dia tampaknya permasalahan selalu terpecahkan karena setiap dia mulai akan gagap, seorang teman yang berada di dekatnya selalu mengagetkannya dengan cara memukul pundaknya atau menendang pantatnya, menggoyang mejanya dll, dan lalu dia dapat lancar lagi membaca, tapi tentu selalu disertai dengan gelak tawa teman-teman sekelas bahkan juga gurunya. 

Saya tidak mau diperlakukan seperti itu, dan saya bertekad untuk mencari cara mengatasi permasalah ini. Kejadian sebelumnya, saya sudah beberapa kali terpaksa lari keluar kelas karena tidak bisa menahan malu waktu kegagapan itu terjadi. Ditanya guru kenapa lari keluar, saya beralasan sakit perut. Saya sadar, tentu saya tidak bisa berpura-pura terus. Dan akhirnya di rumah dan di sekolah saya terus berlatih. 

Pada saat latihan saya akhirnya menemukan sebuah kiat membaca kalimat yang diawali dengan huruf hidup. Kiat itu adalah dengan menempatkan sebuah bunyi seperti huruf mati di depan bunyi huruf hidup yang akan dibacakan yaitu dengan cara menutup pita suara di rongga mulut dan memberi sedikit sentakan sambil bersama-sama membuka pita suara itu menghasilkan bunyi mirip /k/. Bunyi yang saya maksud itu disebut hamzah (pinjaman dari bahasa Arab) atau dalam bahasa inggrisnya disebut glottal stop. Dengan terus-menerus melatih kiat ini akhirnya saya bisa lancar membaca dan belum sempat ada seorangpun di kelas yang memanggil saya Si Gagap. 

Kenapa Hamzah?
Setelah saya dewasa dan mempelajari ilmu bahasa (linguistik) khususnya ilmu pengucapan bunyi bahasa (fonetik) saya sekarang dapat memberi penjelasan kenapa apabila hamzah muncul sebelum huruf hidup saya bisa membaca tulisan pada waktu itu. Berikut adalah penjelasan kurang-lebihnya. 

Semua huruf mati yang dipakai dalam bahasa Indonesia dihasilkan dengan melibatkan peran bagian mulut dan rongga mulut seperti bibir, gigi/gusi, langit-langit, lidah dan jakun (pita suara). Sebagai contoh, bunyi /p, b, m, w/ dihasilkan dengan cara melibatkan bibir dengan cara mengatubkan dan membukanya (bunyi bilabial), sementara /t, d, n, s, z/ (bunyi alveolar) dihasilkan dengan menyentuhkan ujung (batang) lidah dengan gusi bagian atas, dan seterusnya dan selanjutnya.

Untuk bunyi huruf hidup /a, e, i, o, u/ semuanya dihasilkan dengan cara membentuk rongga mulut sedemikian rupa digabungkan dengan membentuk bibir sedemikian rupa pula, dan pada saat bersamaan menggentarkan pita suara kita. Oleh karena harus digetarkan, bunyi-bunyi huruf hidup dikategorikan sebagai bunyi getar (dalam bahasa Inggrisnya disebut voiced). Apabila kita sudah membentuk rongga mulut dan bibir untuk mengucapkan bunyi /a/ misalnya, namun kita tidak menggentarkan pita suara kita maka kita tidak menghasilkan bunyi apa-apa, tetapi hanya menganga saja (atau dalam bahasa Jawanya, seperti orang ndlongop). Itulah yang terjadi pada saya waktu itu.

Nah, sekarang apa hubungannya dengan kesulitan saya membacakan kalimat yang diawali dengan bunyi huruf hidup? 

Seperti sudah saya ceritakan di atas, pada masa itu saya adalah anak kecil yang tertekan yang yang menjadikannya anak yang tidak percaya diri, serba ragu-ragu dan trauma. Saya trauma karena beberapa kali gagal membacakan kalimat yang diawali bunyi huruf hidup yang penyebabnya menurut saya adalah karena dalam membacanya saya penuh keraguan. Menurut penjelasan tentang huruf hidup di atas, kegagalan saya mengucapkan huruf hidup karena saya tidak berhasil membuat bunyi getar sama-sekali.

Dalam berlatih, saya merasa bahwa saya butuh sebuah pemicu untuk menghasilkan bunyi-bunyi huruf hidup itu (yang saya sadari kemudian bahwa pemicu itu adalah untuk menggetarkan pita suara). Dan akhirnya saya mendapatkan bahwa pemicunya adalah dengan cara menutup pita suara dan kemudian sedikit membuat sentakan dan membuka pita suara, menghasilkan bunyi huruf hidup yang diawali dengan bunyi hamzah /?a, ?i, ?u, ?e, ?o/. Memang bunyi-bunyi yang saya hasilkan itu agak aneh kedengarannya, tapi setelah latihan demi latihan saya bisa menyempurkannya dengan menghilangkan bunyi hamzah sedikit demi sedikit, dan akhirnya (dengan pembentukan rongga mulut dan bibir yang tepat untuk masing-masing bunyi) saya cukup menggetarkan pita suara saya saja. 

Hanya sebuah Contoh Kisah Sulit
Kisah saya ini hanyalah sebuah gambaran betapa sulitnya seorang anak kecil harus belajar melakukan sesuatu di tengah tekanan-tekanan yang dia alami. Jika orang tua ada menemani anak saat dia belajar melakukan sesuatu, memahami hal-hal di dunia yang belum terpahaminya dan lain sebagainya, tentunya bebannya akan terasa lebih ringan, terutama kepercayaan terhadap dirinya akan lebih terbangun. Proses pembelajaran anak pada usia dini ini sangat penting, karena sering masa inilah yang membentuk kepribadian/kejiwaan orang di usia dewasanya. Olehkarenanya, keterlibatan orang tua sangat dibutuhkan.

Di jaman sekarang, banyak hal sudah berubah demikian juga hubungan antara orang-tua dengan anak. Dahulu, ada kecenderungan hubungan orang-tua dan anak adalah hubungan atas- bawah, yaitu orang tua bicara dan anak mendengar dan mematuhi saja. Jaman sekarang, hubungan itu sudah cenderung berubah menjadi hubungan sejajar yaitu, anak diberi lebih banyak kesempatan bicara dan orang tua tidak selalu memerintah. Namun, adakah hubugan yang lebih bagus lagi adalah hubungan mitra? Pada hubungan mitra, anak dan orang-tua adalah sahabat, yaitu kedua pihak saling terbuka dalam banyak hal – membagi pengalaman/cerita ke satu dengan yang lainnya dan yang lainnya lalu menanggapi. 

Tidakkah waktu Anda masih belia Anda juga pernah merasa tertekan dan menghadapi kesulitan dalam memahami dan mempelajari sesuatu? Jika Anda merasa kesulitan membangun hubungan mitra dengan anak Anda, mungkin dengan menceritakan masa susah itu ke anak, Anda membuka pintu hubungan yang lebih erat dengan anak. Dan yang terpenting dalam hubungan ini adalah Anda mempunyai peluang lebih besar mendengarkan permasalahan yang anak Anda alami, dan tentu sebagai orang tua yang baik Anda akan berusaha membantu anak itu, setidaknya dia tidak merasa sendirian.

Silahkan, yang sayang anak, yang sayang anak !! 

Salam,
DMP

Tidak ada komentar: