Senin, 21 Februari 2011

Antara Aku, Kau, Menyanyi dan Meruntuhkan Tugu Monas

Katakanlah kehendak anda dengan MAKSUD, kalau tidak yang anda keluarkan dari mulut anda tak akan berbobot dan mungkin saja menjadi bunyi tanpa arti. Yang saya maksudkan dengan MAKSUD adalah dorongan dari dalam hati yang perlu anda keluarkan dari dalam sana dengan cara sedemikian rupa supaya orang yang anda tuju dapat menangkap Maksud sesuai seperti apa yang anda rasakan (dengan kata lain: membuat orang lain merasakan apa yang anda rasakan). Jika Maksud itu tidak sanggup anda keluarkan dengan sempurna maka ia akan membuat diri anda seperti ditekan beban yang amat berat yang anda bawa kemanapun anda pergi.

Ada tiga (3) macam Pengeluaran Maksud yang kita manusia biasa keluarkan dari dalam hati.  Yang pertama adalah Pernyataan, kedua Permintaan dan ketiga Pengucapan-sukur.

Pengeluaran Pernyataan adalah upaya yang kita lakukan yang bertujuan supaya orang lain dapat mengetahui perasaan kita.  Contohnya adalah mengungkapkan kata Cinta. Jika anda jatuh cinta dengan seseorang dan anda merasa bahwa orang tersebut perlu mengetaui perasaan anda itu, maka anda harus bilang “Aku cinta padamu”.

Pengeluaran Permintaan adalah upaya untuk meminta orang lain supaya melakukan sesuatu agar Maksud kita terpenuhi. Contohnya adalah meminta pertolongan seorang hakim untuk membersihkan nama anda yang sudah tercoreng karena kejahatan korupsi yang tidak pernah anda lakukan.

Pengeluaran Pengucapan-sukur adalah upaya untuk berterima kasih, kepada seseorang, sesuatu ataupun Tuhan yang anda anggap telah memberi atau membantu anda memperoleh sesuatu yang baik.

Baik secara bahasa lisan maupun bahasa tulisan, ke-3 upaya Pengeluaran yang saya sebut di atas dapat dimengerti oleh orang yang anda tuju. Namun ada satu lagi unsur bahasa sebagai alat berekspresi yang saya mau bagikan dengan anda dalam tulisan saya ini, yaitu sesuatu yang begitu pentingnya namun sering kita lewatkan begitu saja.

Pengejawantahan Diri

Satu unsur yang sangat penting itu adalah Pengejawantahan Diri. Jika ke-3 Pengeluaran yang saya sebut di atas mengarah kepada orang lain, Pengejawantahan Diri mengarah kepada diri kita sendiri, namun di dalamnya terdapat kekuatan ‘dorongan keluar’ yang sangat kuat.

Untuk lebih jelasnya saya berikan gambaran sebagai berikut. Jika anda sedang jatuh cinta dengan seseorang, dan untuk pertama kalinya anda hendak mengutarakan perasaan anda terhadap orang itu anda mungkin bisa mengucapkan dengan mudah saja “aku cinta padamu”. Tapi apa artinya itu bagi anda setelah mengucapkan kalimat itu begitu saja? Mungkin kalimat itu bagi anda sendiri hanya kosong belaka.

Pengejawantahan Diri dalam hal ini adalah suatu proses yang terjadi di dalam diri anda mulai dari anda mengalami tekanan batin karena perasaan itu, sampai anda menemukan suatu kekuatan sendiri untuk melontarkan kalimat tersebut ke orang yang anda tuju. Melalui proses seperti inilah kalimat yang anda ucapkan itu bisa ‘bermakna’ bagi anda pribadi.

Dalam hal pengeluaran Permintaan seperti contoh permintaan bantuan hakim, Pengejawantahan Diri di sini adalah proses dari anda merasa tertekan karena tuduhan kejahatan yang tidak pernah anda lakukan, sampai kepada munculnya rasa pentingnya menegakkan keadilan, lalu segala usaha anda meminta pertolongan hukum walaupun harus naik banding berulang kali, sampai akhirnya tuntutan itu dicabut dan pembersihan nama baik anda pun dimenangkan. Di sini bukan tujuan akhirnya yang menjadi Pengejawantahan Diri tapi proses usaha memenangi tuntutan yang panjang dan melelahkan itu.

Pengejawantahan Diri dalam pengeluaran Pengucapan-sukur tidak lagi melalui proses yang saya sebut di atas, tetapi ini adalah pengungkapan rasa terimakasih buat sesuatu yang bernilai yang kita dapat, baik melalui pemberian maupun dengan usaha. Semakin tinggi nilai sesuatu yang kita dapat itu akan semakin tinggi pula pengungkapan rasa terimakasihnya. Biasanya Pengucapan-sukur yang tertinggi dan teragung ditujukan manusia kepada Tuhan yang mereka anggap telah memberi mereka hidup.

Pengucapan-Syukur Orang Kristen

Dalam kehidupan orang Kristen Pengucapan-syukur terhadap Tuhan sangat terlihat jelas dalam ibadah mereka. Pengucapan-syukur bagi umat ini tidak lepas dari menyanyikan nyanyian pujian bagi Tuhannya baik perorangan maupun dalam kelompok. Pengucapan-sukur seperti ini sering juga disebut Penyembahan.

Apakah Penyembahan bagi Tuhan adalah sesuatu yang orang Kristen harus lakukan atas kehendak sendiri atau karena perintah Tuhan? Jawabannya adalah yang pertama: orang Kristen melakukan Penyembahan bagi Tuhannya karena mereka merasa perlu mengungkapkan rasa terimakasihnya itu.

Pengungkapan terimakasih yang mendasar pada orang Kristen adalah atas makna pembebasan dari belenggu dosa karena pengorbanan Yesus. Secara pribadi lepas pribadi orang Kristen, selain pembebasan tadi, pengucapan-syukur dilakukan bisa juga karena kesembuhan yang dialaminya, kelepasan dari himpitan masalah ekonomi, masalah mengampuni orang lain yang sangat dibencinya dan sekian banyak perihal lainnya.

Pengejawantahan Diri orang Kristen dengan melakukan Pengucapan-syukur adalah upaya mewujudkan keberadaan dirinya di hadapan Tuhannya. Dengan demikian setiap mereka harus melakukan penyembahan itu dengan segenap jiwa, seutuh dan semurni sebagaimana ia mensyukuri arti pembebasan dari belenggu dosa, pertolongan bagi kesembuhannya, kelepasan dari himpitan masalah dll. Singkatnya, Pengucapan-sukur orang Kristen melalui Pengejawantahan Diri adalah mutlak dalam ibadahnya, atau Tuhan tidak akan hadir dalam ibadahnya itu (misalnya karena orang itu masih membawa perasaan jengkel, kecewa, dendam, marah dan semacamnya).

Menyanyi adalah salah satu bentuk Pengucapan-syukur orang Kristen yang paling umum dilakukan. Dengan menyanyi Pengejawantahan Diri penyembahan akan mengalir seperti air sungai karena syair kata-katanya diiringi dengan irama musik yang teratur indah. Penyembahan ini dapat dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Bayangkan, Pengejawantahan Diri yang dasarnya adalah bersifat perorangan dilakukan bersama-sama secara serempak dalam kelompok paduan suara, bukan saja dalam ketukan irama yang sama tapi juga dengan Maksud ucapan syukur yang serupa pula.

Pada saat Pengejawantahan Diri yang dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok seperti ini, ada yang sesuatu yang tercipta di udara antara kelompok tersebut dengan Tuhannya: suatu kekuatan.

Kekuatan Metafisika

Pengejawantahan Diri pada ke-3 Pengeluaran Maksud yang saya sebut di atas adalah perihal subjektif yaitu dari sisi kita sebagai pelaku. Seperti yang saya sebutkan di atas pula tanpa Pengejawantahan Diri, orang yang kita tuju tetap akan mengerti maksud kita, tapi pengertian yang mereka tangkap tidak akan sama jika kita melaksanakan Pengejewantahan Diri. Ini seperti ada sesuatu yang menyentuh ruang kesadaran mereka yang membuat mereka dapat merasakan apa yang kita rasakan, menyelami maksud kita lebih dalam dari arti kata-kata yang keluar dari mulut kita.

Jika orang yang saya tuju menerima MAKSUD saya (lebih dalam dari arti kata-kata yang keluar dari mulut saya) menurut saya itu terjadi karena Pengejawantahan Diri kita itu telah menciptakan kekuatan metafisika (atau mungkin juga fisika) di udara; sebagai perantara antara saya dengan orang yang saya tuju. Kekuatan ini kira-kira sama dengan kekuatan yang sanggup memecahkan gelas ketika seseorang (tanpa menyentuhnya) dengan Pengejewantahan Dirinya berseru “pecahlah kau Gelas!!!”. Itu tidak mustahil! Mustahil?

Bayangkan juga, jika sekelompok orang dengan Pengejewantahan Diri yang sama berseru “Pohon, tumbanglah kau!!!” Dan apa pula yang akan terjadi apabila kelompok orang yang banyak, teramat banyak sekali jumlahnya dengan MAKSUD dan tujuan yang hanya satu dan tidak ada pilihan lain selain terwujudnya tujuan itu berseru dengan serempak, “wahai kau Tembok Besar, runtuhlah!!!”

Runtuhkan ‘Tugu Monas’

Jika seluruh penduduk Jakarta, mewakili seluruh penduduk Indonesia, berkumpul melingkari Tugu Monas, menengadah melihat puncaknya yang konon berlapis emas itu, dengan Maksud di dalam hati yang sama dalam setiap orang, kemudian berseru dengan serempak “runtuhlah kau hei Tugu Monas!!!”. Bayangkan, bagaimana dahsyatnya suara gemuruh yang dihasilkannya? Namun Pengejewantahan Diri orang satu ibukota, kalo perlu satu negeri itu, pasti akan lebih dahsyat.

‘Tugu Monas’ di sini saya pakai sebagi lambang KEBOHONGAN. Tugu Monas adalah bangunan Pencitraan. Bangunan ini memiliki empat sudut yang mengarah ke empat penjuru angin, dengan ketinggian yang menjulang lebih tinggi dari semua bangunan di sekitar, dan di puncaknya terdapat lidah api yang berwarna kuning ke-emasan, warna keagungan. Puncaknya yang ke-emasan itu adalah lambang kejayaan, yang dapat dilihat dari mana saja karena letaknya yang tinggi, dan menjadi pusat keagungan karena ke-empat sudutnya itu.

Tugu yang megah yang menggambarkan keagungan/kemakmuran/kejayaan ini sayangnya tidak bisa menggambarkan keadaan negeri ini yang sebenarnya. Pada kenyataannya kejayaan di negeri ini hanya dinikmati oleh segelintir orang: para elit penguasa, kolega bisnisnya, penasehat hukumnya dan yang lain-lain di dalamnya yang ‘hidup saling tolong-menolong’, dan bahkan saking kuatnya kelompok ini, Hukum pun tak mampu menuntut mereka. Kelompok ini adalah minoritas, kurang lebih 10% dari jumlah seluruh negeri ini. Sisanya yang 90% adalah rakyat yang secara ekonomi menduduki status masyarakat menengah dan bawah, yang selalu berusaha mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya bahkan kadang hanya untuk bertahan hidup saja, namun secara keadilan mereka sering tidak dapat berbuat apa-apa karena Hukum tidak berpihak kepada mereka.

Keadilan dan Kemakmuran hanya dimiliki sekelompok kecil orang, sementara rakyat yang jumlahnya jauh lebih banyak tidak memilikinya. Jika ada lambang kemakmuran, keadilan atau kejayaan dalam negeri ini, itu hanyalah KEBOHONGAN - jika bukan, setiap manusia Indonesia tanpa pandang bulu dari kelompok mana, agama apa, suku apa dsb.nya harus bisa/pernah merasakannya sendiri.

Pesan Cerita Ini

Pesan saya buat Masyarakat Indonesia yaitu bahwa, sebagai Rakyat, kita adalah unsur yang paling penting dalam negara, karena tanpa Rakyat, negara ini tidak mungkin ada. Dalam bentuk jasmani, jumlah kita sangat banyak, yaitu ± 240 juta jiwa, dan di seluruh dunia negara kita menduduki urutan ke-4 yang paling banyak penduduknya. Namun dari segi Pengejewantahan Diri kita tak terlihat dan suaranya pun tak terdengar, karena dalam takaran kemakmuran dan keadilan, elit penguasa lah yang  jauh lebih unggul.

Bicara soal keberadaan, orang Kristen bukanlah apa-apa dalam ibadahnya jika mereka tidak Mengejewantahkan Dirinya di hadapan Tuhannya (dalam gambaran seperti yang saya tulis di atas). Demikian juga dengan Rakyat; kita bukanlah siapa-siapa jika kita tidak pernah menunjukkan siapa diri kita yaitu dengan cara meminta hak-haknya: keadilan, kehidupan yang layak, keamanan, kebebasan berpendapat dan sebagainya. Hal inilah yang selalu dimanfaatkan oleh elit penguasa dengan cara memakai kesempatan ini untuk menguntungkan diri mereka sendiri yang mengatasnamakan dirinya bekerja buat rakyat - karena keadilan, kemakmuran dan segalanya pada dasarnya adalah milik Rakyat.

Tanpa pernah mengusahakannya, kemakmuran dan keadilan tidak akan pernah kembali menjadi milik Rakyat. Supaya dapat memperolehnya kembali, kita pribadi lepas pribadi harus Mengejewantahkan Diri kita dan secara bersama-sama dalam harmoni menyuarakan MAKSUD kita.

Kita belum lama ini telah menyaksikan kekuatan suara Rakyat di Tunisia dan Mesir yang telah menjatuhkan penguasa-penguasa lalim yang selama masa pemerintahannya melalaikan kepentingan rakyatnya. Gerakan yang serupa juga saat ini sedang berlangsung di negara-negara sekitarnya yaitu di wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah. Indonesia, negara kita ini sudah terlebih dahulu mengalaminya lebih dari satu dasawarsa yang lalu; pada saat itu Rakyat dari semua kalangan dipelopori oleh para mahasiswa menyerukan tuntutannya untuk melengserkan rejim Suharto, dan tuntutan itupun kita menangkan.

Sekarang, setelah hampir dua dasawarsa berlalu, tuntutan yang paling mendasar belum juga kita peroleh: yaitu pencapaian Kemakmuran dan Keadilan. Sudah saatnya kita menyampaikan MAKSUD kita ini atau kita tidak akan pernah mendapatkannya karena kita tidak mau mengusahakannya. Inilah saatnya manusia Indonesia melaksanakan Pengejewantahan Dirinya sebagai Rakyat; tanpa upaya ini, kita tidak pernah (dianggap) ada.

Sebagai penutup, pesan saya buat Penguasa yaitu bahwa, dengan tulisan ini, saya tidak sedang berusaha mengumpulkan massa untuk turun jalan berunjuk rasa. Yang sedang saya usahakan adalah mengembalikan kesadaran Rakyat atas hak-hak yang dimilikinya. Jika rakyat semua sadar akan hak-haknya mereka pasti akan mendapatkannya karena mereka akan selalu bereaksi segera ketika mereka melihat hak-haknya itu dipenggal. Reaksi ini bisa mereka lakukan di mana saja dan saat itu juga yang pasti akan berdampak meluas terlebih karena jaman sekarang informasi selalu menyebar kemana saja dengan sangat cepat.

Hak-hak Rakyat, cepat atau lambat pasti akan kembali ke Rakyat. Oleh karenanya, jika anda adalah penguasa lalim, cepat-cepatlah ambil kesadaran akan hak-hak itu, atau anda akan menjadi musuh Rakyat.
Apa pendapat Anda?
Salam,
DMP

Tidak ada komentar: