Tanggapan atas Komentar Saudara Gondal Gandul (atas tulisan saya SEKAPUR SIRIH)
Tepat sekali, kesimpulan Anda di alenia pertama komentar anda, tidak keluar sedikitpun dari jalur pemikiran saya. Ini adalah hubungan sebab akibat: manusia Indonesia (sebagai sebab) membiarkan negaranya menjadi ‘dedel duwel’ (sebagai akibat) persis seperti arti kata yang anda pakai itu yang artinya dalam bahasa Indonesianya adalah 'ibarat pakaian ia terkoyak di banyak bagian sampai wujudnya pun tidak tampak seperti pakaian lagi'.
Penggunaan kata ‘dedel duwel’ tepat sekali untuk memberi penggambaran suatu keadaan yang sangat rumit; persis seperti yang anda paparkan di dalam alenia ke-2 komentar anda. Tetapi walaupun sangat rumit, bukan berarti tidak mungkin diperbaiki. Saya percaya kesempatan untuk memperbaikinya ada dan itu mungkin diperbaiki jika kita mengembangkan KEPRIBADIAN yang benar dalam bernegara, dan mengembalikan KEBANGGAAN terhadap Negara yang seperti anda bilang, dulu pernah ada di jaman kepemimpinan Soekarno.
Baiklah, untuk lebih jelasnya saya terpaksa memaparkan di sini kenapa saya anggap pengembangan KEPRIBADIAN adalah jalan menuju perbaikan.
Alasan kenapa Pengembangan KEPRIBADIAN adalah Jalan menuju Perbaikan
Dalam pandangan saya, kebanyakan manusia Indonesia melihat pemimpin sebagai ‘manusia dewa’, yaitu manusia yang bisa mendatangkan kehidupan (yang makmur) bagi mereka. Derajatnya pemimpin dianggap lebih tinggi dari mereka sehingga pemimpin jangan ditanyai soal bagaimana ia melakukan ini dan itu karena ia pasti tau bagaimana melakukannya. Di lain pihak, pemimpin Indonesia menganggap dirinya memang sebagai ‘manusia dewa’ yaitu mereka harus dipandang berderajat lebih tinggi dari manusia Indonesia lainnya dan jika kata-katanya didengar oleh rakyat maka dia akan senang, rakyat pun akan senang. Dengan latar belakang pandangan kehidupan seperti inilah saya yakin kenapa ada istilah yang sangat terkenal di tengah masyarakat kita yaitu, ‘jilat pantat, asal Bapak senang’.
Paham 'kepemimpinan manusia dewa' ini berbeda jauh bahkan bertentangan dengan makna Demokrasi yang artinya ‘Kekuasaan/Pemerintahan Rakyat’ (dari bahasa Yunani: Demos Kratos). Saya akan bahas lebih panjang lebar lagi mengenai masalah hubungan pemimpin dan rakyat dalam negara Demokrasi ini di tulisan khusus di halaman lain dalam blog ini.
Jika memang dulu ada kebanggaan terhadap negara pada jaman Soekarno, tetapi kemudian ada pemudaran kebanggaan dan mungkin penyirnaan kebanggaan dimulai dari jaman Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati sampai dengan sekarang SBY, kemungkinan besar itu terjadi karena kebanyakan manusia Indonesia berharap terlalu tinggi dari pemimpin-pemimpinnya yaitu bahwa mereka bisa membawa kemakmuran dan kejayaan. Namun pada kenyataannya itu semua tidak kunjung tiba, mulai dari penantian dari pemimpin satu ke pemimpin berikutnya kemakmuran dan kejayaan tak kunjung datang. Manusia Indonesia lalu menjadi kecewa (atau ikut istilah Anda ‘masyarakat putus asa’) karena pemimpinnya yang diberi kepercayaan besar itu ternyata korup atau mungkin mereka sendiri tidak sanggup lagi memberantas budaya korupsi itu.
Oleh karena kekecewaan dan keputus-asaan itu manusia Indonesia tidak punya pilihan; mereka akan melakukan hal yang korup juga di dalam setiap kesempatan yang ada. Persetan dengan orang lain, karena jika saya punya pangkat dan harta maka orang lain tetap akan menghormati saya. Kalaupun ada yang tidak menghormati saya, saya akan sogok saja dengan uang, mereka juga pasti akan senang dan menghormati saya. Yang berpangkat di bawahnya pun akan melakukan hal yang sama terhadap yang di bawahnya lagi. Begitulah Lingkaran Setan itu.
Pemimpin bukan Dewa
Saya pernah mengandai-andai. Di dalam sebuah kelompok masyarakat yang manusianya menghormati pemimpinnya layaknya seorang dewa, saya membayangkan pemimpinnya adalah orang yang sangat bijaksana, mencintai rakyat dan mau membantu rakyat secara langsung. Tindakan nyatanya adalah misalnya seperti ini: dalam sebuah pertemuan umum si pemimpin ini mengikatkan tali sepatu seorang bawahannya yang dilihatnya terlepas bahkan kemudian membersihkan noda debu di atas sepatu itu dengan ujung jarinya. Hal-hal seperti itu adalah hal-hal yang biasa si Pemimpin lakukan terhadap siapa saja rakyatnya. Menurut Anda bakal seperti apa perilaku rakyat terhadap pemimpinnya dan juga terhadap sesama rakyat dalam masyarakat yang pemimpinnya adalah pemimpin yang seperti di atas? Menurut saya, pasti rakyat akan sangat mencintai pemimpinnya bisa-bisa melebih cintanya terhadap dirinya sendiri dan sangat menghormatinya serta-merta menghormati dan melakukan bantuan langsung terhadap sesamanya seperti yang pemimpinnya sudah contohkan.
Pengandai-andaian ini banyak kita temukan dalam cerita-cerita rakyat nusantara. Pesan dari cerita-cerita rakyat itu adalah: rakyat menginginkan seorang pemimpin yang sebagus itu. Namun, untuk rakyat bisa bilang langsung kepada pemimpinnya supaya ia bersikap seperti itu, tidaklah mungkin karena bukan begitu jalannya dalam pola kemasyarakatan ‘tradisional’ seperti ini.
Pemimpin mana yang tanpa ada desakan dari rakyatnya akan selalu memberi contoh yang baik bagi rakyatnya? Bagi saya jelas sekali, Itu hanya ada dalam cerita-cerita rakyat belaka.
Mewujudkan Negara Dambaan Masyarakat (Dambaan)
Ini adalah Akar Pemikirannya:
Dalam upaya memperbaiki keadaan yang ‘dedel duwel’ ini, pemimpin harus mempelajari bagaimana sifat dasar, perilaku, dan dambaan rakyatnya; jika ia sudah tau itu semua ia harus bisa mengambil hati rakyatnya. (Setelah melakukan pengamatan yang berkesinambungan dari dekat terhadap masyarakat Indonesia , saya dapat menjabarkan ketiga unsur dasar kepribadian rakyat itu secara garis besarnya yaitu sebagai berikut): Sifat dasar kebanyakan manusia Indonesia adalah sangat sederhana. Mereka berperilaku seperti pandangan dalam cermin; jika orang lain berbuat tindakan X terhadapnya, ia pun akan melakukan tindakan X terhadap orang itu. Dambaan mereka adalah kedamaian, yaitu supaya setiap orang lain berbuat hal yang baik kepadanya sehingga ia pun bisa melakukan hal yang sama terhadap mereka; setiap tindakan buruk sangat tidak diharapkan dan dielakkan kecuali oran g lain memulainya.
Seorang pemimpin harus mampu mewujudkan dambaan rakyat itu, dengan cara memulainya dari dirinya sendiri, yaitu memberi contoh yang baik bagi rakyatnya. Salah satu contohnya adalah seperti ini: pemimpin tidak mau naik mobilnya yang megah dan mahal itu dengan dikawal pasukan khusus yang jumlahnya banyak dan kemudian melintas di jalan-jalan di kota yang padat lalu-lintasnya di jam-jam yang sedang padat-padatnya, dan kemudian arus lalu-lintas yang sedang padat-padatnya itu harus dihentikan dari banyak arah beberapa saat sebelumnya oleh polisi supaya mobilnya bisa melaju di jalan tanpa hambatan dan yang akhirnya pengguna jalan yang padat yang jumlahnya banyak sekali itu pun harus menunggu lama bahkan bisa berjam-jam, yang artinya mereka kehilangan waktu yang berharga buat pekerjaannya hanya gara-gara dia. Pemimpin tidak mau melakukan itu semua karna dia tau itu akan merugikan orang banyak.
Yang pemimpin mau lakukan adalah justru sama seperti yang oran g lain biasa lakukan atau yang orang lain belum lakukan supaya mereka lakukan karena dia telah memberi contoh yang benar. Jadi misalnya, jika jadwal acara yang hendak didatanginya adalah jam 9 pagi sementara jarak tempuh dari tempat tinggalnya ke tempat tujuan kira-kira adalah 45 menit, maka ia harus berangkat dari rumahnya setidaknya jam 8 pagi tanpa polisi harus menghentikan arus lalulintas demi dia seorang. Atau karena di kota tempat tinggalnya ada kampanye ‘Tidak Berkendaraan Pribadi ke Tempat Kerja’, dia akan meninggalkan mobilnya dan naik angkutan umum, tentunya dengan perhitungan berangkat lebih awal supaya tidak terlambat sampai tujuan. Semuanya itu pemimpin mau lakukan supaya dia terlihat tidak terlalu mementingkan diri sendiri, dan contoh yang kedua supaya ia bisa memberi teladan yang baik bagi masyarakat umum.
Dilatar-belakangi pengetahuannya akan sifat, perilaku dan dambaan masyarakatnya, seorang pemimpin mau atau tidak mau, dia harus menerapkan program ‘pemberian contoh yang baik’ ini kepada masyarakatnya supaya tercipta apa yang didambakan bersama (kebaikan buat semua orang). Program ini ‘harus’ karena menurut pengertian perilaku, masyarakat adalah masayarakat yang ‘berpandangan dalam cermin’, jadi kalau buruk tindakan pemimpin maka bayangan yang muncul dari dalam cermin adalah tindakan buruk masyarakat.
Di setiap negara, politik pasti ada dan berperan penting dalam kehidupan kenegaraan sehari-hari. Di dalam usa ha seorang pemimpin untuk mewujudkan dambaan rakyat ini juga, dia akan memasukkan usaha ini ke dalam agenda berpolitiknya. Di negara besar lain seperti Amerika Serikat perihal politik ‘mengambil hati rakyat’ juga merupakan hal yang biasa. Ini bisa dilihat dari usaha Presiden Obama yang tampak mencoba medekati rakyatnya dengan cara berbaur dengan rakyatnya langsung seperti misalnya dia makan siang di sebuah rumah makan yang sedang padat dengan rekan-rekan kerjanya, dan harus ikut menunggu dalam antrian panjang dan kemudian menyantap makanannya di sebuah meja di rumah makan itu dengan rekannya, sementara pengunjung lain juga bersantap di meja-meja lainnya di ruangan yang sama.
Hal berpolitik ini harus dipahamai oleh rakyat. Bukankah ada pepatah yang mengatakan ‘dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tau’?, atau dengan kata-kata yang lebih lugas, ‘jangan percaya dengan siapapun juga, karena kita tidak bisa menebak isi hati’. Rakyat harus menguji setiap ‘niat baik’ pemimpinnya jangan sampai ia ternyata hanyalah ‘seekor rubah berbulu domba’. Bagaimana mengujinya? Yaitu dengan cara mengamati dengan ketat tanpa henti setiap kebijaksanaannya apakah segala buahnya sudah baik untuk masyarakat menyeluruh.
Masyarakat boleh diambil hatinya oleh pemimpin dan mencintainya mati-matian, tetapi mereka tidak bisa mengpasrahkan seluruh kehidupannya ke tangan pemimpinnya begitu saja (pemimpin yang dimaksud di sini adalah, setiap orang yang keputusan yang dibuatnya berpengaruh pada kehidupan masyarakat umum). Masyarakat harus selalu meminta pertanggung-jawaban pemimpin jika ada sesuatu yang tidak beres terjadi karena itu memang hak masyarakat. Di lain pihak, pemimpin juga harus menanggapi segala pertanyaan masyarakat dengan sungguh-sungguh karena keberesan kehidupan masyarakat adalah tanggung-jawab mereka.
Jika ada seorang pemimpin yang menolak untuk ditanyai masyarakat perihal sesuatu yang tidak beres atau dia tidak menanggapinya dengan serius, masyarakat patut mencurigai pemimpin tersebut bahwa ada yang tidak beres dengan dia dalam menjalankan tugasnya. Hal ‘curiga-mencurigai’ ini akan menjadi hal yang biasa di dalam menjalankan kehidupan bernegara karena kita harus tetap ingat pepatah lugas itu ‘jangan pernah percaya dengan siapapun!’. Kita akan bisa percaya dengan seseorang hanya apabila kita sudah melihat buah yang baik dari perbuatannya, namun demikian kita pun masih tetap harus waspada. Bukankah ada pepatah kuno yang mengatakan ‘manusia adalah serigala bagi manusia lainnya’ (homo homoni lupus). Pepatah ini berlaku dari jaman dahulu kala, sampai sekarang, dan terus pada masa yang akan datang, itu benar karena sifat manusia pada dasarnya adalah selalu mementingkan diri-sendiri. Oleh karenanya, kita harus saling mengawasi kinerja satu dengan yang lainnya untuk meyakinkan bahwa kehidupan masyarakat di semua bidang berjalan dengan beres. Jika semua sudah beres maka kemakmuran dan kedamaian bersama akan terwujud dan semua pihak senang. Siapa yang tidak akan bangga menjadi bagian dari negara Ind onesia jika semua beres, semua orang senang, semua karena hasil kerja sama semua pihak ?
Pemikiran tentang PERUBAHAN ini berhulu pada peru bahan pada pemimpin dan juga rakyat pada waktu yang bersamaan. Keduanya harus memainkan peranannya masing-masing dengan tepat; rakyat adalah pemilik negara dan pemimpin adalah pekerja yang bekerja buat rakyat yang tugasnya adalah untuk memastikan keberlangsungan hidup seluruh rakyat berjalan dengan baik. Saya tekankan di sini bahwa pemimpin adalah pekerja yang bekerja buat rakyat; mereka dipilih oleh rakyat dan mempertanggung-jawabkan pekerjaannya buat rakyat. Sebagai pekerja mereka setara dengan polisi lalu-lintas, guru, sopir bis umum, tukang sapu jalan dll; mereka semua sama-sama pekerja, yang membedakannya adalah tugas dan kerumitan tanggung-jawabnya.
Dalam pemikiran seperti tertulis di atas yang dasarnya adalah dari dambaan rakyat itu yaitu ‘kebaikan bagi setiap oran g’, rakyat harus berperan aktif untuk mewujudkan dambaan itu sendiri, bukannya hanya pasif menantikan seorang pemimpin yang benar, yang bisa mendatangkan kebaikan bagi setiap orang (kemakmuran merata). Saya ulang sekali lagi di sini, pemimpin seperti itu hanya ada dalam cerita-cerita rakyat belaka.
Sedikit tentang Idiologi
Saya kembali tengok ke dalam komentar Anda, Bung Gondal Gandul. Anda bertanya di sana perkara Idiologi. Sebelum saya menjawabnya, biarlah saya meyakinkan bahwa kita berpengertian sama tentang istilah Idiologi yang anda maksud. Apakah ideologi yang anda maksud adalah ‘gagasan falsafah, yang biasanya unique sebagai bentuk jati-diri kelompok masyarakat itu sendiri yang diyakini nilai-nilainya bisa menjawab segala-macam tanta ngan kehidupan masyarakat itu sendiri’? Saya akan menjawab pertanyaan anda di sini berdasarkan pemahaman saya akan Idiologi seperti yang saya terakan di dalam tanda kutip tunggal di atas.
Saya tidak banyak tau tentang peran Idiologi sebuah kelompok masyarakat dengan kemakmuran rakyatnya. Apakah kelompok A dengan idiologi B-nya akan lebih makmur dengan kelompok masyarakat X dengan idiologi Y-nya, atau apabila kelompok masyarakat X mengganti idiologi Y-nya dengan idiologi B maka niscaya kehidupan masyarakatnya akan lebih baik?
Saya tidak melihat adanya hubungan langsung antara idiologi yang dimiliki sebuah kelompok masyarakat dengan keterciptaannya kemakmuran yang merata. Namun kita bisa melihat bahwa Idiologi Pa ncasila tampa knya berfungsi dengan tepat sebagai pemersatu masyarakat Ind onesia yaitu menyatukan masyarakat yang beragam, yang berbeda suku, budaya, bahasa dan agama. Di sinilah keunikan idiologi ini bagi Bangsa Ind onesia .
Jika ada suatu kekuatan politik agama yang hendak merubah idiologi Pancasila, seperti misalnya saja seperti yang anda misalkan yaitu gagasan kekhalifahan, ini berarti pembubabaran kesatuan masyarakat yang beragam latar-belakangnya itu. Apakah semua masyarakat Ind onesia akan senang menerimanya? Tentu saja tidak, karena gagasan itu akan ditolak oleh masyarakat yang berlatarang belakang agama lain dan juga yang mendukung NKRI. Pancasila yang tidak mempermasalahkan perbedaan agama akan lebih cocok untuk masyarakat yang beragam agama ini.
Jika pada jaman sekarang ini masih ada ‘perang idiologi’ dan masing-masing idiologi mengatakan bahwa idiologinya lah yang lebih bagus dll, itu bisa saja terjadi. Tetapi kebutuhan masyarakat umum yang mendesak adalah kehidupan yang makmur merata dan damai, bukan idiologi. Jadi menurut saya, masyarakat harus mengambil tindakan yang mengarah lurus menuju pencapaian dambaan masyarakat itu, dengan cara merubah Kepribadiannya untuk bernegara karena perannya akan berdampak langsung terhadap kemajuan negara itu sendiri. Sampai sejauh ini ulasan saya, saya tetap berada dalam jalur pemikiran saya akan PERUBAHAN. Perubahan yang saya usulkan adalah perubahan KEPRIBADIAN masyarakat Indonesia (baik rakyat maupun pemimpin menuju Kepribadian yang benar dalam bernegara), bukan perubahan ataupun perbaikan idiologi.
Quo Vadis (ke mana saya pergi)? Saya harap jawaban panjang lebar saya ini atas tanggapan dan pertanyaan Saudara, menjelaskan ke mana arah tujuan saya. Sebagai penutup, saya ucapkan banyak terimakasih atas tanggapan anda ini; ini memungkinkan saya menulis sebuah tulisan lagi dalam blog ini. Saya harap tulisan ini akan bermanfaat bagi kita semua.
DMP
Tidak ada komentar:
Posting Komentar