Rabu, 22 Desember 2010

Ketika Ayahku Sendiripun Menyuruhku Korupsi

Saya melewatkan masa akil-balik saya di sebuah kota kecil di Sumatra Utara. Seperti remaja pada umumnya pada masa itu kami yakin bahwa semakin banyak fasilitas semakin mudah rasanya menjalani hidup. Apalagi bicara soal mobilitas, lengkap sudah rasanya kalau saya mempunyai kendaraan sendiri, karena saya bisa pergi kemana-mana dengan teman-teman dengan penuh percaya diri dan bergaya. Terlebih dari itu, soal mendapatkan teman cewek, gampang. Kami di daerah sana mengistilahkan kendaraan itu ‘pelet Jepang’, yaitu kendaraan (roda dua maupun empat) buatan Jepang (karna hampir semua buatan Jepang adanya) yang kalau dikendarai bisa dengan gampang ajak teman cewek raon-raon (jalan-jalan).
Sayang seribu sayang, Alamak!, jangankan punya mobil tangan-kedua, punya sepeda motor keluaran tahun pertama pun saya tak punya. Bisa ditebak, tentu saya pada masa itu hampir tidak pernah mengajak teman cewek raon-raon; oke, pernah beberap kali saja, itu karna ada teman yang berbaik hati mau meminjamkan kendaraannya (tapi itu pun susah kali meminjamnya).
Marah rasanya saya pada masa itu, termasuk juga iri dengan teman-teman yang punya kendaraan. “Entah dari mana uang bapaknya bisa belikan kendaran anaknya”, pikir saya waktu itu. Dilihat dari jabatannya, ayah saya tidak rendah-rendah sekali. Banyak bahkan yang orang-tuanya jabatannya di bawah ayah saya tapi mereka bisa dibelikan kendaraan sendiri.
Sekarang ini saya tinggal di Jakarta, bekerja sebagai seorang pegawai di sebuah institusi nirlaba swasta yang bergerak dalam bidang penelitian bahasa. Saya bersyukur, dengan gaji saya sebagai pegawai di sini, dengan menabung, saya bisa membeli sebuah sepeda motor bekas yang saya pakai untuk mobilitas sehari-hari (iya tidak seperti dulu, motifasi saya punya kendaraan sendiri sekarang bukan untuk ajak cewek raon-raon tapi untuk mobilitas saya sendiri sehari-hari).
Karena saya dan orang tua sekarang terpisahkan oleh jarak-jauh, komunikasi yang kami biasa lakukan adalah lewat telepon. Obrolan saya dengan orang-tua saya terutama ayah saya yang beberapa hari lalu ini, cukup lama dan hangat. Seperti biasa, mereka menanyai kabar saya, dan juga kenapa saya masih tetap main tunggal (single).
Kemudian, saya dan ayah saya membahas soal ekonomi, yang dia bilang uang di Indonesia itu paling banyak beredar di Jakarta, kota tempat tinggal saya sekarang ini. Lalu dia melanjutkan, kalau begitu tentunya saya pun seharusnya punya kesempatan lebih besar untuk bisa lebih punya banyak uang (tidak seperti sekarang yang belum punya apa-apa). Dia pun menyarankan supaya saya seharusnya bergaul dengan ‘orang-orang penting’ supaya saya pun punya lebih banyak kesempatan dapat uang. Bahkan, tambahnya lagi sebaiknya kalau cari istri pun cari perempuan yang kaya. Dan yang terakhir, dia menyarankan saya ambil saja semua kesempatan yang ada asal dapat uang banyak.
Perkataan yang terakahir di atas membuat saya berpikir banyak jenak. Itu saya artikan bahwa ayah saya sedang menyuruh saya untuk korupsi. Saya berpikir, memang itu yang dicari setiap orang, yaitu mencari kesempatan (bisa posisi di sebuah instansi atau kedekatannya dengan ‘orang penting’ atau apa saja) supaya bisa korupsi. Seperti misalnya Gayus Tambunan. Dia adalah orang yang sangat ‘beruntung’. Dengan posisinya di Ditjen Pajak, dia bisa menghasilkan banyak uang, dia bisa menjadi kaya raya, bahkan terkenal, tak peduli hasil uang itu kategori korupsi. Siapa yang tidak mau punya posisi macam dia? Siapa pun di posisi dia akan juga melakukan hal yang sama. Tetapi, dalam hati kecilku saya bilang “tapi aku bukan seperti dia”.
Saya terus berpikir. Tampaknya dalam pandangan setiap orang termasuk ayah saya, takaran keberhasilan seseorang dalam hidupnya adalah jumlah harta (materi) yang dimiliki orang itu seperti: rumah besar, mobil mewah, pembantu banyak, tanah di mana-mana, deposito besar dan lain sebagainya. Semakin besar harta semakin baik, tak peduli dari mana mendapatkan harta itu. Mentalitas (kepribadian) seseorang di sini tidak pernah menjadi bagian dari takaran untuk mengukur keberhasilan seseorang.
Alam pikiran saya pun kembali sadar dan terdengar kembali suara ayah saya yang masih bicara di telepon. Saya langsung memotong pembicaraan ayah saya dengan sebuah pertanyaan, yaitu sebuah kisah yang saya dengar dari ibu saya sendiri di masa akil-balik saya. “aku dengar dari Mamak, bahwa waktu Bapak masih dinas dulu jadi perwira pengaman kebon (perkebunan kelapa sawit) ada orang yang datang ke rumah bawa duit ratusan juta rupiah buat nyogok Bapak – itu terjadi beberapa kali. Kenapa Bapak nggak ambil duit itu?”. Ayah saya terdiam sesaat, lalu menjawab dengan pelan namun jelas, “karena saya takut dengan akibatnya”.
Ya, saya tau maksudnya. Akibat yang dimaksud adalah bukan dampak terhadap saya anaknya yang tidak bisa dibelikan kendaraan, yang tidak bisa hidup sedikit bergaya dengan kendaraannya, tetapi terhadap dirinya sendiri, yaitu bahwa dia bisa kehilangan otoritasnya dalam jabatannya karena terbeli dengan uang itu. Ya, itu adalah soal tanggung-jawab, saya paham itu.
Kemudian saya pikir, saya pun harus menegaskan kepada ayah saya di mana posisi saya berdiri sekarang ini. Saya bilang kepada ayah saya bahwa saya bukan Gayus. Saya tidak seperti dia yang tidak punya pandangan hidup dan bermentalitas rendah. Saya punya pandangan hidup yang membuat saya adalah saya. Saya punya pandangan hidup itupun karena apa yang saya lihat dari ayah saya sendiri, dan saya bangga oleh karena itu.
Pandangan hidup saya adalah pengembangkan diri semaksimal mungkin dengan sepenuh hati, dan pekerjaan saya adalah PELUANG saya untuk mengembangkan diri itu. Jadi, kalau pekerjaan saya sekarang adalah seorang penulis yang harus saya lakukan adalah menulis dan menulis tak pernah berhenti, sampai tulisan saya disukai oleh banyak orang dan bermanfaat bagi mereka; itu adalah hasil pekerjaan saya.
Jika pekerjaan saya adalah seorang pelukis, saya akan melukis dan melukis sampai semua orang menyukai lukisan saya. Jika saya adalah seorang pelari saya akan lari sekencang-kencangnya, sampai saya menjadi yang terdepan. Jika saya adalah seorang pemanah, saya akan hanya tujukan pandangan saya pada satu titik, sehingga hanya akan ke titik itulah anak panah saya akan menunjam.
Jika saya adalah seorang presiden, saya akan jadi negarawan yang jadi pemimpin demi untuk kesejahteraan rakyat bukan untuk berbisnis untuk kepentingan saya sendiri. Jika saya adalah wakil rakyat saya akan menyuarakan kepentingan rakyat, bersuara sekeras-kerasnya walau sampai mati, demi untuk nasib rakyat bukannya menipu rakyat demi untuk hidup saya sendiri. Dan sebagainya dan seterusnya, saya bisa memiliki pekerjaan lebih dari satu tapi semua akan saya lakukan dengan sepenuh hati. Jerih payahnya lebih bernilai dari uang itu sendiri.
Jangan tanya harga hasil karya pelukis Affandi, jangan tanya hasil karya para pemusik, dll. Mereka di samping menikmati pekerjaan juga menikmati harga hasil karyanya.
Menurut pendapat saya, koruptor adalah bukan orang yang berkarya. Mereka adalah orang yang tidak bisa menikmati/menjiwai pekerjaannya sebagai koruptor karena mereka mecari jalan pintas untuk mendapat hasil yang banyak buat diri sendiri. Yang terlebih parah adalah mereka memotong kesempatan orang lain untuk meperoleh hidup. Atas dasar ini, menurut saya, tempat mereka adalah di dasar laut. Sudah sepantasnyalah sebuah  batu kilangan diikatkan ke leher mereka dan dibuang ke laut, supaya mereka terbantun di dasar laut sana. Mungkin di sana mereka ada kesempatan untuk belajar bagaimana berkarya.
Bagaimana menurut Anda?

Salam,
DMP

Tidak ada komentar: