Ini adalah cerita seorang teman pada masa akil-baliknya. Di dalam masyarakatnya tempat dia tinggal dan dibesarkan ada kebiasan untuk menawarkan makanan yang mereka makan kepada orang lain pada saat mereka hendak menyantap makanannya seperti misalnya “mari makan Mas”, “mari makan Mbak”, dsb. Ia sering mengamati orang melakukan hal tersebut kepada orang lain tetapi selalu saja jawabannya adalah, “nggak, terima kasih”, “terima kasih, sudah makan tadi”, “terima kasih, silahkan dilanjut makannya”. Belum pernah ia melihat ada orang yang ditawari makan, langsung berkata “ayok, ikut makan ya” dan kemudian langsung menyantap makanan si penawar bersama-sama. Dan memang itulah yang benar-benar ia ingin lakukan.
Ketika suatu waktu ada orang yang menawarkan makanannya “mari makan Mas” kepadanya, tanpa pikir dua kali dia langsung menyerbu makanan itu sambil tentu bilang “terima kasih”. Kepada siapa saja yang menawarkan dia makanan dia perbuat hal yang sama, sampai akhirnya tidak ada seorangpun di kampungnya yang mau menawarkan makanan kepadanya lagi. Mereka sekarang terpaksa memilih kata-kata lain untuk ‘menawarkan makanan’. Mereka sekarang hanya bilang “mari, Mas” atau “monggo, Mas” sambil menundukkan kepalanya, tersenyum dan menghadap makanannya. Tidak ada lagi yang bilang “mari makan...”.
Sekarang dia lebih paham sedikit dengan masyarakatnya yaitu : ketika seseorang bilang “mari makan, Mas” itu adalah basa-basi belaka, yang arti yang sebenarnya adalah, ‘saya mau makan, ijinkanlah/biarlah saya menyantapnya ya Mas’.
Beberapa hal yang dapat diunduh dari cerita ini adalah soal penggunaan bahasa, atau lebih tepatnya pemilihan kata. Masyarakat kita mungkin dengan alasan beramah-tamah, kesopanan atau apapun itu cenderung untuk berbahasa dengan kita dengan kata-kata yang jika diartikan secara harfiah bukan itu sebenarnya yang mereka maksud. Kita sebagai pendengar terpaksa berusaha mencari-tau maknanya sendiri.
Bentuk budaya penggunaan bahasa seperti ini jika digunakan pada konteks kehidupan yang lebih luas seperti misalnya dunia bisnis, politik, kenegaraan dsbnya bisa berakibat sangat buruk bagi kelangsungan kehidupan itu sendiri. Di konteks kehidupan yang disebutkan di atas setiap pihak harus berbahasa dengan bahasa yang akan ditangkap oleh pendengar sebagai mana itu adanya, dengan kata lain menggunakan bahasa yang lugas. Sekarang muncul pertanyaan: akankah kebiasaan hidup sehari-hari di masyakarat kecil di kampung dibawa ke forum yang lebih serius seperti di sebut di atas? Jawabnya ialah sangat mungkin.
Kembali ke cerita teman saya tadi. Menurut saya, dia adalah contoh seorang manusia Indonesia yang mau mengadakan perubahan. Mungkin dengan berdasarkan pemikiran kehidupan bisnis serius yang bahasanya harus lugas, dia menuntut juga bahasa yang digunakan sehari-hari juga hendaknya begitu. Jadi untuk tawaran makan, jika ada yang bilang kepada anda “mari makan, Mas” itu artinya orang itu benar-benar mau berbagi makanannya dengan anda. Dan jika orang itu tidak mau berbagi makanannya dengan anda dia tidak perlu bilang apa-apa langsung santap saja. Bagi anda pun hal itu haruslah syah-syah saja, karna anda berpikir itu hak dia untuk makan, jika saya mau makan saya bisa beli sendiri nanti. Yang saya perlu bilang ke orang yang makan di depan saya itu sekarang adalah “selamat makan, ya”.
Seorang yang membutuhkan perubahan menuntut bahasa yang lebih jelas dari penutur yaitu bahasa yang menjelaskan niat itikadnya (lugas). Di jaman sekarang ini, apakah ada pentingnya/untungnya mempertahankan penggunaan bahasa yang tidak langsung menuju itikad? Apakah keuntungannya kita menggunakan bahasa yang lebih tertuju? Apakah kita bisa tetap menggunakan bahasa yang lugas tetapi tetap mempertahankan kesopanan?
2 komentar:
Masalahnya, negara kita sudah terkenal akan keramah-tamahannya. Dan kalimat seperti "Mari makan mas/mbak" adalah bentuk keramah tamahan. Nah kalo ga gitu, ntar kita dianggap gak ramah dong??
Kemungkinan untuk membawa kebiasaan seperti ini ke kancah pergaulan (konteks kehidupan, menurut istilah Mas Dalan)yang lingkupnya lebih luas pasti ada. Jadi, menurut saya, ini adalah pinter2nya kita berbahasa aja. Seperti halnya adaptasi. Kita harus bisa menempatkan diri kapan dan dimana kita harus berbasi-basi (yang kadang basi banget dan bikin lawan bicara atau orang yang mendengar menjadi eneg)dan harus berbahasa secara lugas dan langsung menuju kepada inti pembicaraan.
Kadang berbasa-basi itu perlu lho! Seperti halnya dalam dunia 'marketing'. Sepertinya agak sulit kalau kita langsung main tembak ke klien. Harusnyakan ada langkah-langkahnya. Ada prolognya..(disini biasanya ba(ha)sa basi bermain). Kemudian baru deh ke "inti", kemudian bilang ke klien tujuan kita apa. Basa-basi disini berguna kok untuk 'menarik hati' klien. Basa-basi ini penting, supaya kita bisa tahu hal-hal apa saja yang menarik bagi si klien.Ya, bisa dibilang jadi sok kenal sok akrab untuk mencapai tujuan utama. JUALAN :)
Basa-basi itu perlu kalau tempat dan waktunya sesuai.
Jadi, masyarakat Indonesia, pintar-pintarlah berADAPTASI dalam hal berbahasa.
Terima kasih Mbak Anggi (yang) Anggun buat komentarnya.
Perlu saya luruskan di sini pengertian basa-basi yang saya permasalahkan.
Mbak Aggun tampaknya mencapur-adukkan basa-basi dengan dua contoh yang berbeda.
Contoh yang pertama yaitu contoh "mari makan mas/mbak" dan contoh kedua yang Mbak Anggun bilang 'prolog' seperti "apa kabar? atau, bajunya bagus, gimana makan siangnya" dll.
Jenis ‘basa-basi’ yang saya permasalahkan di sini adalah yang di contoh yang pertama.
Contoh2 yang lain yang serupa dengan contoh pertama adalah "mau ke mana?" dan "sedang ngapain?". kedua pertanyaan ini sering sekali dipake jika kita bertemu dengan orang. kita yang terbiasa dengan pertanyaan ini akan membalasnya dengan "mau ke sana" sambil tersenyum, dan "ah enggak ngapa-ngapain kok" (di sini kita paham bahwa pertanyaan seperti itu memilik makna yang sebenarnya adalah "hai apa kabar?").
Namun jika kita bicara soal Perubahan, kita tentu saja boleh kritis dengan penggunaan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, karena jawabannya, dalam bahasa lugas, sudah pasti "itu bukan urusan anda!", atau dalam bahasa Inggrisnya "(where I’m going, what I’m doing), that's not your business!".
Contoh yang Mbak Anggun beri bukan termasuk bahasan bahasa lugas yang dimaksud, karena hal2 prolog itu memang wajar, sifatnya adalah pengantar.
Inti permasalahnya sebenarnya bukan contoh2 basa-basi yang saya tulis ini, tetapi jauh lebih luas dari itu, yaitu manusia Indonesia perlu kritis terhadap dirinya sendiri.
Menurut saya kedalaman berbahasa yang digunakan seseorang menunjukkan siapa orang itu. Hidup di tengah masyarakat yang semakin lama semakin majemuk, kita tentunya harus bisa berbahasa yang bisa dimengerti semua kalangan; kita tidak bisa hanya membawa kebiasaan/isitilah yang biasa kita pakai di daerah asal kita.
Jadi di sini kita harus siap berubah, demi untuk kelanggengan bermasyarakat dengan masyarakat yang lebih luas. Bukan hanya soal berbahasa, tapi juga soal pola pikir saya rasa harus dirubah juga. Pertanyaannya sekarang apakah kita melihat desakan perubahan ini, dan apakah kita siap untuk berubah?
Saya berencana menulis mengenai 'Perubahan Berbahasa dan Pola Pikir' di kesempatan lain. Saya ucapkan trima kasih lagi buat Mbak Anggun yang komentarnya sudah mengantar saya pada topik ini.
Mengenai ‘keramah-tamahan’: apakah pengejewantahan keramah-tamahan adalah universal, ataukah regional? Di sinipun saya khawatir kita akan mencampur-adukkan cakupan keramah-tamahan yang kita pakai (ramah buat kita belum tentu ramah buat orang lain).
Salam,
DMP
Posting Komentar