Jumat, 19 November 2010

SEKAPUR SIRIH

Keterpurukan Negara ini disebabkan oleh manusianya sendiri

Manusia Indonesia menurut saya belum siap untuk hidup bernegara, itulah yang menjadi sebab kenapa negara ini terpuruk. Bernegara di sini maksud saya adalah melakukan tindakan-nyata dalam mengembangkan dan memajukan negara Indonesia atas dasar kecintaan dan kebanggan manusia Indonesia terhadap negaranya. Ini sama halnya dengan perihal rumah tangga yang setiap anggota keluarganya merasa punya andil untuk memperbaiki sesuatu yang rusak dan mempertahankan keberlangsungan hidup di dalam rumah itu.

Memang kalau manusia Indonesia ditanyai kalau mereka mencintai dan bangga akan negaranya, siapa saja bisa bilang “YA”. Tapi bagi mereka yang lebih terbuka akan bilang “kenapa aku harus mencintai Negara ini, dan apa pula yang harus aku banggakan kalau para pemimpin semuanya korup?” Pernyataan yang kedua inilah yang merupakan tantangan kita saat ini.

Saya pun kalau disuruh menjawab pertanyaan tersebut di atas akan menjawab dengan pernyataan yang kedua yaitu menuntut orang lain (yang dalam hal ini adalah pemimpin) untuk tidak melakukan kesalahan. Dan memang itu harus. Tetapi selanjutnya apa, jika merekapun tidak melakukan kesalahan, akankah saya menjadi bangga dengan Negara? Tentu dalam keadaan seperti itu pun tidak, karena kita tidak bisa berbangga karena sesuatu yang tidak/belum dilakukan seseorang. Kita bisa berbangga karena suatu tindakan yang seseorang lakukan yang berdampak baik pada orang lain.

Dalam hal bangga-berbangga ini, setiap manusia Indonesia dituntut untuk berpikir dan melakukan tindakan yang berdampak baik bagi orang lain, sehingga akhirnya akan membuat manusia Indonesia yang lainnya berbangga atas apa yang orang lain perbuat.

Langsung kepada inti pemikirannya sekarang, di sini saya bicara soal kepribadian yang setiap manusia Indonesia harus miliki. Supaya Negara bisa lepas dari keterpurukan ini setiap manusia Indonesia harus memiliki kepribadian yang matang/dewasa untuk bernegara. Dengan kata lain kepribadian manusia Indonesia yang mendukung bisa merubah nasib negara ini. Sistem saja tidak cukup untuk menciptakan Indonesia yang lebih cerah – atau mungkin sebenarnya sistem itu tidak perlu karena kepribadian manusia-manusianya sudah sangat mendukung untuk mewujudkan sebuah kemakmuran.

Kita ambil contoh apa yang terjadi pada negara-negara Skandinavia seperti, Finlandia, Denmark, Swedia dll. Negara-negara tersebut tidak memiliki sistem anti korupsi dan juga tidak sedang mengembangkannya, tetapi mereka dikenal sebagai negara-negara yang paling bersih dari korupsi di seluruh dunia. Dan karena bersihnya negara-negara tersebut dari korupsi, tentunya masyarakatnya memiliki perekonomian yang merata (sedikit sekali orang miskin, kebanyakan masyarakatnya adalah kelas menengah dan jenjang antara kelas menengah dan atas tidak terlalu jauh – semua orang mampu memperoleh semua kebutuhan pokok bahkan sekunder). Keberhasilan ini adalah hasil dari tindakan-tindakan nyata masyarakat negara-negara tersebut yang berkepribadian matang/dewasa yang bertujuan baik untuk orang lain dan negaranya.

Indonesia bukanlah negara yang baru berdiri kemarin. Indonesia menyatakan kemerdekaannya di era pembebasan dari tirani penjajahan imperialis Barat (baik di Asia, Afrika maupun Amerika Latin); masa yang banyak melahirkan negara-negara merdeka, bahkan Indonesia adalah salah satu negara yang mempelopori kemerdekaan bangsa-bangsa. Sekarang negara-negara yang merdeka setelah kemerdekaan negara kita sudah banyak yang terlepas dari keterpurukan bahkan sudah sangat leibh maju.

Indonesia berdiri karena cita-cita para pendiri negara kita yaitu sebuah keyakinan bahwa setiap umat manusia di manapun termasuk manusia Indonesia memiliki hak untuk hidup layak tanpa penindasan dari bangsa lain dan juga mempunyai hak serta kemampuan untuk berdiri sebagai suatu negara yang berderajat tinggi sederajat dengan negara-negara lain di dunia. Semangat kemerdekaan inilah yang membakar para pejuang untuk bertempur merebut kemerdekaan bahkan sampai mengorbankan nyawa mereka sendiri... Sampai akhirnya kemerdekaan itupun berhasil didapatkan. Tapi itukah segalanya yang kita (manusia Indonesia) inginkan? Tentu tidak. Cita-cita itu masih jauh dari keterpenuhan karena banyak manusia Indonesia (bahkan kebanyakan) belum hidup layak dan lebih jauh lagi di dunia ini Indonesia dijuluki negara Ke-Tiga yang artinya kita tidak sejajar dengan negara-negara Maju – kita berada beberapa tingkat di bawah mereka.

Dari segi kejiwaan, manusia Indonesia merasa lebih rendah dari manusia-manusia negara-negara maju. Itu benar, karena manusia Indonesia lebih percaya kalau bisnisnya dijalani oleh mereka ketimbang oleh dirinya sendiri. Itu benar, karena tenaga ahli mereka tampaknya lebih mampu ketimbang tenaga ahli kita. Itu benar, karena tampaknya mereka lebih teliti, lebih cermat, lebih sungguh-sungguh dsbnya dari kita. Itu benar, karena kita lebih yakin dengan barang-barang bikinan mereka daripada punya kita – dan bahkan saking yakinnya, kita tidak pernah mau lagi mencoba untuk membuat karya sendiri. Singkatnya kalau mereka turun tangan dalam setiap sisi kehidupan/pekerjaan kita semuanya pasti beres, hasilnya pasti akan baik.

Bicara soal kemerdekaan berarti tentang kemandirian. Apa yang salah dengan kita kalau kita tidak bisa melakukan pekerjaan kita tanpa campur tangan orang asing? Mungkin karena kita tidak suka bekerja keras; lebih baik orang lain yang bekerja dan kita yang menikmati apa yang bisa dinikmati dari hasilnya. Tapi bukankah ada pepatah ‘siapa menanam dia yang menuai’. Jawaban yang lebih cocok, menurut saya adalah karena kita tidak yakin dengan kemampuan kita sendiri.

Ketidak-yakinan akan diri kita sendiri adalah masalah KEJATI-DIRIAN (kepribadian). Jika seseorang hidup dengan masalah kejati-dirian ini, itu artinya dia tidak mengenal dirinya sendiri. Dia tidak pernah bertanya pada dirinya sendiri ‘siapa sebenarnya saya?’, ‘apa makna hidup saya’? ‘kenapa saya hidup di tengah-tengah masyarakat ini, dan apa pula hubungannya antara saya dengan mereka?’ dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan pencarian-jatidiri lainnya.

Jawaban dari semua pertanyaan di atas dapat ditemukan di mana-mana dalam kehidupan ini di belahan dunia manapun selama kita mau mencarinya. Jawabannya secara sederhana adalah,’Saya adalah saya yang tidak pernah sama secara sifat maupun rupa dengan orang lain, tetapi sama dalam hak, sebanding dalam kemampuan, dan beragam dalam talenta’. ‘Makna hidup saya adalah bukan hidup untuk saya, karena setiap yang saya kumpulkan untuk saya pribadi akan busuk bersama nama saya, tetapi apa yang saya kerjakan buat kebaikan orang banyak akan menjadi panutan dan dikenang beserta nama saya’. ‘Hubungan saya dengan masyarakat saya adalah PELUANG bagi saya untuk membuat mereka BANGGA dengan satu sama lainnya (dalam hal ini bangga menjadi manusia Indonesia)’. Dan semua pertanyaan-pertanyaan lainnya selalu ada jawaban dan selalu akan membangun kepribadian/jati-diri kita (jika kita mau mencari).

Sekarang kita dihadapkan pada sebuah tantangan yaitu PERUBAHAN. Manusia Indonesia harus memiliki Kepribadian yang benar yang memampukan kita untuk bisa bernegara. Kapan Perubahan ini harus dimulai? Jawabannya adalah SEKARANG.

Perubahan kepribadian setiap manusia Indonesia harus dimulai dari sekarang. Jika kita generasi sekarang tidak berubah maka anak-cucu kita generasi kedua dan ketiga pun tidak berubah. Di masa itu, mereka seperti kita sudah tidak mempunyai rasa cinta dan bangga terhadap negara dan segala isinya karena kita pun tidak. Yang mereka pikirkan pada masa itu adalah melakukan segala sesuatu untuk diri sendiri, persetan dengan manusia Indonesia lainnya. Pada masa itu pula (sekitar 50 tahun dari sekarang dengan perhitungan satu generasi adalah 25 tahun) Indonesia sudah ludes terbeli oleh negara kaya, anak-cucu kita adalah budak uang mereka, sementara sebagian besar lainnya akan tetap hidup kekurangan makan, tak berpendidikan, terlantar dan sebagainya.

Jika kita dari sekarang berubah maka tujuannya adalah mempertahankan negara ini dengan masyarakat yang makmur merata sama dengan semua masyarakat di belahan dunia manapun, dan kita punya derajat yang sama dengan negara-negara maju, bukan di bawah mereka. Kita bisa dengan bangga membawa nama Indonesia di dunia internasional, bekerja sama dengan orang dari negara manapun sebagai mitrakerja dan disegani karena prestasi dan martabatnya.

Bagaimana caranya kita berubah?

Yang pertama-tama yang harus kita lakukan menurut saya adalah mengembangkan kepribadian yang tepat untuk bernegara, yaitu: mulai dengan bertanya kepada diri sendiri 'siapa saya?’ dan cobalah menjawabnya. Seperti sudah ditulis di atas 'Saya adalah saya yang tidak sama secara sifat dan rupa (beda kulit, beda bentuk wajah, beda ukuran tubuh dll) tetapi saya punya hak untuk hidup yang sama dengan semua orang dan punya kemampuan untuk mengembangkan diri'. Silahkan anda mengembangkan sendiri pengertian ini, tetapi intinya adalah tidak ada satupun dari kita yang rendah yang karna alasan apapun tidak hidup layak dan tidak bisa mengembangkan kemampuan kita untuk kepentingan orang banyak.

Saya menganggap hal pencarian jati-diri/pengembangan diri ini penting karena saya banyak menemukan manusia Indonesia yang bersifat pasrah, tidak bisa menggerakkan diri sendiri untuk mecapai sesuatu yang lebih baik dan tidak keluar dari kubangan permasalahannya. Dalam wadah blog ini, saya mau menempatkan permasalahan ini dalam satu kategori khusus, yang saya harap tulisan-tulisannya bisa membakar, menyemangati, mendorong, dan meyakinkan manusia-manusia ‘pasrah’ ini untuk mulai lebih aktif untuk Bernegara. Kategori ini akan saya beri nama ‘Penjati-dirian’.

Ada banyak kategori lain dalam blog ini juga. Masing-masing kategori akan berisi tulisan yang membangun, mengkritik, memberi inspirasi, pencerahan, tapi tidak pernah menjatuhkan semangat pembaca. Kategori-kategori tersebut di antaranya adalah: ‘Demokrasi’ yang tulisannya berisi bagaimana seharusnya manusia Indonesia bertindak dan berpikir dalam negara demokrasi seperti Indonesia, apa hubungan rakyat dengan para pemimpin, dll, ‘Peranan Perempuan’ akan berisikan tulisan-tulisan yang menyemangati perempuan Indonesia dalam perannya membangun negara, kemerdekaan mereka untuk mengutarakan hak dan pendapatnya, dll, ‘Pendidikan Anak’ tentang bagaimana mendidik anak untuk mencintai dan bangga akan negaranya, mendidik mereka supaya mandiri, tau akan kemampuannya dan mau mengembangkannya demi kepentingan orang banyak, ‘Berbahasa’ bahasa yang tidak bertele-tele, yang terarah, yang lebih dimengerti oleh setiap kalangan dan tentunya yang membangun. Dan masih banyak lagi kategori yang lain yang perlu kita kembangkan jika perlu.

Saya undang setiap pembaca untuk menulis tulisan-tulisan yang intinya adalah untuk mengajak manusia Indonesia untuk berubah. Ingat!, Perubahan di sini sangatlah penting, sepenting keberlangsungan negara ini sendiri. Tulisan-tulisan kita semua akan sangat bermanfaat bagi manusia Indonesia lainnya, tulislah sesuatu yang terbaik buat kita semua. Akhir kata, saya ucapkan banyak terima kasih atas perhatian saudara semua. Harapan saya, kita semua masih bisa mencintai dan bangga akan negara ini dan berlanjut sampai generesi selanjutnya dan seterusnya, selamanya. Amin.

dengan Cinta saya,
DMP

6 komentar:

Wonge Dhewek mengatakan...

nice article....good job.TERASKAN!!!!

Gondal Gandul mengatakan...

Tulisan saudara di atas dengan judul Keterpurukan Negara ini disebabkan oleh manusianya sendiri, kalo boleh saya menyimpulkan adalah ajakan saudara untuk merefleksi, berintrospeksi, bertanya kepada diri sendiri mengapa Indonesia sebagai bangsa tetap menjadi bangsa kutu kupret, bangsa gurem yang tidak punya harga diri diantara bangsa bangsa, mengapa Indonesia sebagai negara tetap terpuruk diantara negara2 sekitarnya, tetap menjadi negara siput yang terseok seok mengejar ketertinggalannya dibanding negara2 lain, tetap dedel duwel dimana mana yang membiarkan warganya dihina dan di aniaya sebagai TKI di Arabsaudia, yang membiarkan kebudayaanya seperti batik, reog dll diklaim menjadi milik tetangga, yang membiarkan harta kekayaanya seperti natuna, ambalat Freeport dll di jarah negeri pemodal kaya.

Permasalahan yang saudara tulis sebenarnya permasalahan yang rumit dan cukup serius, untuk mengurainya tentunya tidaklah mudah, setidaknya tidak semudah gadis remaja memasang BH, untuk mengurainya memerlukan pendekatan yang menyeluruh, memerlukan pendekatan multidisipliner Tetapi saudarapun tidak salah, ketika merefleksi mengapa manusia Indonesia tidak bangga menjadi bangsa Indonesia yang menurut saudara disebabkan karena para pemimpin bangsa bersikap korup, berfaham mumpungisme, berprilaku adigang adigung. Karena memang persoalanya cukup rumit, luas dan menyangkut banyak aspek, biarlah saya mengambil sedikit saja dari yang banyak itu.

Tentang kebanggaan, perasaan bangga menjadi bangsa Indonesia, dewasa ini memang semakin pudar, menipis kalo tidak mau di katakan hilang, sebabnya tentu banyak hal. Tidak seperti generasi pasca perang kemerdekaan dimana pada saat itu orang dengan gagah dan bangga menyebut dirinya sebagai bangsa Indonesia, karena pada jaman itu sedang terjadi Idiologisasi, nation character building dll. Pidato2 bung Karno cukup ampuh untuk mengganja masa yang kelaparan. Masa yang kebanyakan adalah petani dan pengangguran bodoh terbuai oleh janji2 surga yang penuh harapan. Di sisi lain masa menjadi sadar bahwa mereka sama sama lapar, sama sama miskin, sama sama bodoh, sama sama menempati wilyah yang sama yaitu Indonesia, yang lebih penting mereka memiliki impian dan harapan yang sama. Rasa kebersamaan inilah yang membuat manusia Indonesia (pada saat itu) bangga memyebut diri sebagai bangsa Indonesia karena memiliki dentitas diri yang sama dan harapan indah serta luhur yang sama.

Setelah bung Karno terjungkal dari kedudukannya dan diganti oleh penerusnya yaitu Suharto dengan gaya Orde barunya, langgam dan lagu kepemimpinanpun berubah. Masa yang lapar disuapi dengan beras dan kemewahaan dari hasil ngutang dan menggadaikan kekayaan alam. Tak peduli berapa besar utang yang penting masa tidak lapar dan yang lebih penting lagi masa tidak boleh mengeritik pemerintahan. Agar masa tidak punya kemampuan mengeritik, dihilangkanlah daya kristisnya, dumulai dengan de-idiologisasi dan de-sukarnoisasi, pancasila kemudain ditafsir menurut kepentingan penguasa, barang siapa membangkang, berani berbeda tafsir dengan penguasa, atas nama pembangunan si pembangkang akan di nista. Kata Pembangunan bagi penguasa sering kali menjadi gada ampuh untuk menggebug si pembangkang, pembangunan menjadi rantai ajaib untuk membelenggu kebebasan berfikir dan mengemukakan pendapat. Kata pembangunan menjadi katup maha kuat untuk menutup dan mendistorsi arus informasi Itulah sikap adigang adigung yang dipertontonkan. Di sisi lain si penguasa dan kroninya asik mengkorupsi uang hasil utangan, inilah sikap korup yang ditunjukan.

( akan di lanjutkan ….)

Gondal Gandul mengatakan...

( ..... Lanjutan)

Ketika pada akhirnya Orde baru tumbang, kebebasan informasi terbuka lebar, masarakat terperanjat melihat kenyataan bahwa utang begitu banyaknya sampai ribuan trilyun, dari ribuan trilyun itu hanya sebagian kecil untuk pembangunan, sedang sisanya adalah di korupsi. Cita cita yang dulu ketika pasca kemerdekaan di dendangkan sebagai cita cita luhur, cita cita bersama, kita susah bersama, kitapun akan senang bersama, kita menderita berama kitapun akan bahagia bersama, menjadi pudar. Melihat kenyataan seperti itu, masarakat putus asa. Sebab yang terjadi adalah sebaliknya kowe makmur aku ajur, kowe sugih aku kere. Yang terjadi akhirnya sikut sikutan, setiap orang berusaha mendapat kesempatan untuk ikut korupsi, orang tidak malu malu lagi melakukan korupsi. Korupsi seolah merupakan hal wajar, sehingga menjadi kebudayaan.

Kenyataan yang carut marut dan kegagalan pembangunan seperti ini menggelisahkan banyak pihak, pembangun yang selama ini diperjuangkan ternyata tidak mampu membawa masarakat kepada kemakmuran bersama, tidak mampu menjelmakan impian bersama, makmur bersama, bahagia bersama, yang terjadi adalah makmur segelintir orang, melarat sebagian besar orang, bahagia segelintir orang, menderita sebagian besar orang. Sebagian orang mulai bertanya adakah yang salah dengan pembangunan selama ini, sayang jawabnya bukan memperbaiki system yang sudah ada, tapi malah ingin merombak toal system yang ada. Hasil kerja founding fathers bapak bangsa, yang sudah sampai pada konsensus bahwa dasar negara adalah Pancasila mulai diragukan sebagian orang. Pancasila diotak atik, misalnya sebagian orang menghendaki system Khilafah. Ini semakin membuat kita, bangsa Indonesia tetap mandeg tidak bergerak, sebab bangsa bangsa lain sudah membangun negara, kita masih sibuk debat Idiologi, yang seharusnya debat itu sudah selesai 65 tahun yang lalu. Artinya dengan memperdebatkan Idiologi kita bukanya melangkah maju, tapi malah mundur ke keadaan sebelum proklamasi kemerdekaan

Kenyataan kenyataan yang saya sebutkan diatas semakin memperparah keadaan, akankah kita mampu keluar dari situasi semacam itu?. Ajakan saudara agar kita berubah, justru melahirkan pertanyaan baru, berubah dari mana? Dari IDIOLOGIkah seperti yang di kehendaki sebagian kecil orang, atau dari hal lain seperti yang saudara tulis yaitu berubah yang dimulai dari KEPRIBADIAN bangsa?, lebih penting lagi apakah perubahan itu di arahkan kepada perubahan untuk kepentingan bersama? makmur bersama, bahagia bersama, ataukah kita akan tetap mengulang seperti perubahan dari orde lama ke orde baru, yang menghasilkan perubaha untuk kepentingan sebagian golongan, sebagian kecil golongan makmur, sebagian besar golongan hancur. Sebagian kecil golongan bahagia, sebagian besar golongan menderita. Quo Vadis?

Wonge Dhewek mengatakan...

mungkin untuk menguraikan kerumitan permasalahannya adalah, dengan menyamaratakan pendidikan masy Indonesia seperti anda-anda ini. sehingga masyarakatpun akan berpikir hal yang serupa.

Dalan mengatakan...

Saudara Gondal-Gandul, saya senang sekali dengan tanggapan anda atas tulisan saya SEKAPUR SIRIH. Saya menanggapai tanggapan Anda dengan serius dan mencoba memberi tanggapan balik sesederhana mungkin. Namun karena permasalah Perubahan seperti yang saya usulkan ini cukup serius, saya tidak berhasil menyimpulkannya dalam satu halaman saja dalam kotak komentar ini. Olehkarenanya saya terpaksa menuliskan tanggapan balik ini dalam satu tulisan khusus dalam blog ini yang saya beri judul 'Pemimpin Berubah Rakyat Juga'. Silahkan Anda baca dan setiap tanggapan dari Anda akan sangat berharga. Terima kasih

AnggiAnggun mengatakan...

nice article..sudah bukan saatnya untuk mencari-cari asal muasal keadaan bangsa kita yang sekarang semakin morat-marit. Yang dibutuhkan adalah tindakan dan semangat untuk menjadi yang lebih baik. Seperti yang mas Dalan bilang, mulai dari bertanya dari diri sendiri, kemudian berbuat. Menurut saya, tidak perlu langsung dalam lingkup besar, mulailah dari lingkup kecil, seperti tetangga, lingkungan sekolah, kantor, etc. Berbuatlah sesuatu...
Sudah bukan saatnya menjadi generasi individualis, berbuat untuk orang lain itu lebih baik.
Berubah itu tidak mudah memang, butuh konsistensi dan semangat yang besar. Apalagi merubah keadaaan negeri ini yang semakin terseok-seok menurut saudara Gondal-gandul. Paling tidak kita berbuat sesuatu, itu yang penting. SESUATU.. Tidak boleh ada lagi manusia-manusia pasrah yang hanya bisa menuntut dan tidak berbuat apa-apa.
Jadi, mari berubah dah berbuat SESUATU untuk menjadikan negeri ini menjadi lebih baik..